KIAI WAHAB CHASBULLAH: ULAMA MULTITALENTA YANG MEWARISKAN PENDIDIKAN, KEBANGSAAN, DAN SPIRIT PERJUANGAN
Tokoh

KIAI WAHAB CHASBULLAH: ULAMA MULTITALENTA YANG MEWARISKAN PENDIDIKAN, KEBANGSAAN, DAN SPIRIT PERJUANGAN

Nama KH Abdul Wahab Chasbullah menempati posisi penting dalam perjalanan sejarah Islam dan kebangsaan Indonesia. Di lingkungan Nahdlatul Ulama, sosok yang akrab disapa Kiai Wahab ini dikenal bukan hanya sebagai ulama, tetapi juga pendidik, organisator, pemikir, pejuang, sekaligus penggerak umat yang memiliki pandangan jauh ke depan.

Kiai Wahab lahir di Tambakberas, Jombang. Sejumlah sumber menyebutkan tahun kelahirannya berbeda-beda. Namun, penelitian terbaru yang bersandar pada catatan tangan beliau sendiri menunjukkan bahwa Kiai Wahab lahir pada Senin Pon, 29 Muharram 1305 H atau bertepatan dengan 17 Oktober 1887 M.

Sejak kecil, beliau tumbuh dalam lingkungan pesantren yang kuat. Pendidikan dasar agama diperoleh langsung dari ayahnya, KH Chasbullah. Dari sang ayah, Kiai Wahab mempelajari Al-Qur’an, tauhid, fikih, tasawuf, serta bahasa Arab.

Memasuki usia remaja, semangat menuntut ilmu membawanya berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain. Beliau belajar di Pesantren Langitan Tuban, kemudian melanjutkan ke Mojosari dan Cepoko di Nganjuk.

Perjalanan intelektualnya berlanjut ke Tawangsari, Sidoarjo, sebelum akhirnya berguru kepada ulama besar Madura, KH Muhammad Kholil Bangkalan. Dari pesantren-pesantren tersebut, Kiai Wahab memperdalam berbagai cabang ilmu agama, terutama fikih, bahasa Arab, tafsir, dan ilmu alat.

Beliau juga sempat belajar di Pesantren Branggahan Kediri dan Pesantren Tebuireng Jombang. Di Tebuireng, selain belajar, Kiai Wahab mulai dipercaya mengajar santri-santri tingkat dasar dan menengah. Bahkan, beliau pernah menjadi lurah pondok.

Ketika usianya sekitar 23 tahun, KH Chasbullah menilai putranya masih perlu memperdalam ilmu. Sekitar tahun 1909, Kiai Wahab diberangkatkan ke Makkah untuk melanjutkan pendidikan.

Selama kurang lebih lima tahun di Tanah Suci, beliau berguru kepada sejumlah ulama Nusantara maupun Timur Tengah yang masyhur. Di antaranya adalah Syekh Mahfudz at-Tarmasi, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syekh Abdul Karim ad-Daghestani, serta sejumlah ulama lainnya.

Masa belajar di Makkah tidak hanya memperkaya keilmuan Kiai Wahab, tetapi juga membentuk keluasan cara pandangnya. Di sana pula beliau menyalurkan kegemarannya berdiskusi dan berdebat secara ilmiah.

Pelopor Pendidikan Modern di Lingkungan Pesantren

Sepulang dari Makkah, perhatian Kiai Wahab tertuju pada dunia pendidikan. Beliau melihat perlunya pembaruan metode pembelajaran agar pendidikan Islam mampu menjawab tantangan zaman.

Pada tahun 1912, Kiai Wahab mendirikan Madrasah Mubdil Fan di Tambakberas. Kehadiran madrasah ini menjadi salah satu embrio pendidikan madrasah modern di lingkungan pesantren.

Dari pengalaman tersebut, beliau kemudian merintis Madrasah Nahdlatul Wathan dan Taswirul Afkar di Surabaya. Kedua lembaga ini menjadi pusat kaderisasi generasi muda yang kelak berperan penting dalam dakwah dan perjuangan kebangsaan.

Dalam waktu relatif singkat, jaringan pendidikan Nahdlatul Wathan berkembang ke berbagai daerah. Cabang-cabangnya berdiri di Surabaya, Jombang, Gresik, Malang, hingga Semarang.

Kiai Wahab meyakini bahwa pendidikan merupakan jalan utama membangun kemajuan umat. Pada tahun 1927, beliau menegaskan bahwa kewajiban umat Islam adalah mengajak yang belum berilmu untuk belajar dan mendorong yang berilmu untuk mengajar.

Perhatian beliau terhadap pendidikan juga menyentuh kaum perempuan. Ketika sebagian masyarakat masih memandang perempuan tidak perlu belajar menulis, Kiai Wahab justru membuka ruang pendidikan bagi mereka.

Melalui Madrasah Tambakberas, beliau mendukung hadirnya kelas-kelas perempuan. Langkah ini menunjukkan kemampuan Kiai Wahab dalam memahami teks keagamaan secara kontekstual dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip syariat.

Menggerakkan Ekonomi Umat

Selain pendidikan, Kiai Wahab memiliki perhatian besar terhadap kemandirian ekonomi. Beliau menyadari bahwa kemajuan umat tidak cukup dibangun melalui penguatan ilmu agama semata.

Bersama para ulama, saudagar, dan tokoh masyarakat dari Jombang, Kediri, serta Surabaya, Kiai Wahab menginisiasi lahirnya Nahdlatut Tujjar pada tahun 1918. Organisasi ini menjadi wadah penguatan ekonomi dan jaringan perdagangan umat.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa sejak usia muda, Kiai Wahab telah memikirkan pentingnya pemberdayaan ekonomi sebagai bagian dari perjuangan umat Islam.

Solidaritas untuk Palestina

Kepekaan Kiai Wahab tidak berhenti pada persoalan dalam negeri. Beliau juga mengikuti perkembangan dunia Islam internasional.

Pada tahun 1938, Kiai Wahab menyerukan dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina. Seruan itu diwujudkan melalui doa bersama dan pembacaan qunut nazilah di berbagai daerah.

Gerakan solidaritas tersebut terus berkembang hingga menjadi bagian dari kegiatan NU pada masa itu. Dukungan kepada Palestina dipahami sebagai wujud persaudaraan sesama umat manusia yang sedang menghadapi penjajahan dan ketidakadilan.

Pentingnya Media dan Literasi

Kiai Wahab memahami bahwa dakwah tidak cukup dilakukan melalui mimbar dan pengajian. Umat juga memerlukan media sebagai sarana penyebaran gagasan.

Karena itu, beliau menggerakkan pendirian percetakan dan menerbitkan berbagai media NU. Salah satunya adalah majalah Soeara Nahdlatul Oelama yang dipimpinnya secara langsung.

Media-media tersebut menjadi sarana pendidikan publik, penyebaran pemikiran keagamaan, sekaligus penguatan wawasan kebangsaan di tengah masyarakat.

Tradisi Dialog dan Bahtsul Masail

Salah satu kelebihan Kiai Wahab adalah kemampuannya membangun budaya dialog. Ketika menghadapi persoalan sosial maupun keagamaan, beliau lebih memilih jalan musyawarah dan diskusi ilmiah.

Berbagai persoalan fikih dibahas bersama para ulama melalui forum-forum yang kini dikenal sebagai bahtsul masail. Melalui tradisi ini, keputusan keagamaan lahir dari proses ijtihad kolektif yang matang.

Kiai Wahab juga dikenal produktif menulis. Salah satu karyanya adalah Panyirep Gemuruh, yang memuat hasil diskusi para ulama mengenai persoalan perluasan Masjid Peneleh Surabaya.

Menjaga Keutuhan NKRI

Ketika dipercaya menjadi Rais Aam PBNU, peran kebangsaan Kiai Wahab semakin terlihat. Beliau menjadi salah satu ulama yang konsisten mendukung keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam berbagai kesempatan, Kiai Wahab menegaskan bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Bahkan, beliau memandang negara Indonesia sebagai bentuk pemerintahan yang sah menurut perspektif Ahlussunah wal Jamaah.

Pandangan tersebut menjadi kontribusi penting dalam menjaga harmoni antara keislaman dan kebangsaan. Sikap moderat inilah yang kemudian menjadi salah satu ciri khas NU hingga hari ini.

Beliau juga mendukung berbagai upaya mempertahankan keutuhan wilayah Indonesia, termasuk saat perjuangan pembebasan Irian Barat pada era Presiden Soekarno.

Ulama Pejuang dengan Kekuatan Spiritual

Selain dikenal sebagai organisator dan pemikir, Kiai Wahab juga memiliki kedalaman spiritual yang kuat. Beliau sering memberikan ijazah doa, hizib, dan amalan kepada para santri serta pejuang bangsa.

Menjelang dan sesudah Resolusi Jihad 1945, Kiai Wahab aktif membina para ulama dan santri agar memiliki kesiapan lahir maupun batin dalam menghadapi situasi perjuangan.

Berbagai hizib seperti Hizbul Bahr, Hizbun Nashr, Hizbur Rifai, dan amalan lainnya diijazahkan kepada para pejuang. Tradisi ini menjadi bagian dari ikhtiar spiritual yang berjalan berdampingan dengan perjuangan fisik.

Bagi Kiai Wahab, kekuatan umat tidak hanya terletak pada strategi dan organisasi, tetapi juga pada keteguhan iman serta kedekatan kepada Allah SWT.

Warisan yang Terus Hidup

KH Abdul Wahab Chasbullah wafat pada 29 Desember 1971 dan dimakamkan di kompleks keluarga Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Meski telah berpulang lebih dari setengah abad lalu, warisan pemikiran dan perjuangannya tetap hidup. Pendidikan, ekonomi, media, kebangsaan, hingga penguatan spiritual umat menjadi bidang-bidang yang pernah disentuh dan dikembangkannya.

Kiai Wahab memberi teladan bahwa ulama tidak hanya hadir di ruang pengajian, tetapi juga di tengah persoalan masyarakat dan bangsa. Dari Tambakberas, beliau meninggalkan jejak pengabdian yang terus menginspirasi generasi Nahdliyin untuk merawat ilmu, memperkuat persatuan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.

Sumber : nuonline (nu.or.id)

Penulis
Andi Budi Setiawan
Tanggal
30 Mei 2026
Dibaca
5 kali
Tags: #tokohnu #mwcnurogojampi #pcnubanyuwangi #pwnujawatimur #pbnu #nuonline #nahdlatululama
Bagikan:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!