MALAM LIKURAN DI BANYUWANGI: TRADISI USING MENYAMBUT LAILATUL QADAR DENGAN SPIRIT KEBERSAMAAN
Opini

MALAM LIKURAN DI BANYUWANGI: TRADISI USING MENYAMBUT LAILATUL QADAR DENGAN SPIRIT KEBERSAMAAN

Tradisi Malam Likuran di Banyuwangi bukan sekadar ritual tahunan masyarakat. Ia merupakan perjumpaan antara nilai-nilai Islam dengan kearifan lokal masyarakat Using yang diwariskan secara turun-temurun. Dalam suasana sepuluh malam terakhir Ramadan, tradisi ini menghadirkan ruang spiritual sekaligus sosial bagi warga untuk memperdalam ibadah.

Secara umum, Malam Likuran di Banyuwangi dilaksanakan pada malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir Ramadan, yakni malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29. Malam-malam tersebut diyakini sebagai waktu yang memiliki peluang besar turunnya malam penuh kemuliaan. Dalam tradisi Islam, malam itu dikenal sebagai Lailatul Qadar yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.

Di berbagai masjid dan musala Banyuwangi, masyarakat berkumpul untuk menggelar kenduri atau selamatan. Warga membawa berbagai makanan dari rumah masing-masing, kemudian didoakan bersama sebelum waktu berbuka puasa. Tradisi ini bukan hanya bentuk rasa syukur, tetapi juga simbol kebersamaan dan gotong royong masyarakat.

Setelah berbuka puasa bersama, kegiatan biasanya dilanjutkan dengan salat Magrib berjamaah. Suasana masjid menjadi lebih hidup karena warga memilih untuk tetap tinggal hingga malam. Momentum ini sekaligus menjadi pintu masuk untuk memperbanyak ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan.

Kegiatan berikutnya adalah i’tikaf di masjid dengan memperbanyak ibadah. Jamaah melaksanakan salat tasbih berjamaah, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa. Dalam tradisi pesantren dan praktik keagamaan warga Nahdlatul Ulama, aktivitas spiritual seperti ini sangat dianjurkan untuk menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan.

Dalam kajian yang dipublikasikan oleh NU Online, i’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan merupakan amalan yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah ﷺ. Beliau bahkan meningkatkan intensitas ibadahnya pada fase ini untuk meraih kemuliaan Lailatul Qadar.

Dalam literatur klasik Islam, ulama besar seperti Abu Hamid al-Ghazali juga menekankan pentingnya memanfaatkan malam-malam Ramadan untuk memperbaiki kualitas batin. Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, ia menjelaskan bahwa ibadah yang paling bernilai adalah ibadah yang mampu membersihkan hati dari kesombongan, iri hati, dan kelalaian.

Dalam perspektif sosial, Malam Likuran di Banyuwangi juga memperlihatkan kuatnya hubungan antara agama dan budaya. Tradisi ini menjadi bukti bahwa dakwah Islam di Nusantara tumbuh melalui pendekatan yang ramah terhadap budaya lokal. Nilai-nilai keislaman tidak meniadakan tradisi, melainkan membimbingnya agar tetap berada dalam koridor syariat.

Tradisi ini sekaligus mempererat hubungan antarwarga. Kenduri bersama, doa bersama, dan ibadah berjamaah menjadi ruang perjumpaan yang memperkuat rasa persaudaraan. Di tengah kehidupan modern yang cenderung individualistis, tradisi seperti ini menghadirkan kembali semangat kebersamaan.

Tidak mengherankan jika Malam Likuran di Banyuwangi terus bertahan hingga hari ini. Ia tidak hanya menjadi ritual religius, tetapi juga simbol identitas budaya masyarakat Using. Tradisi ini mengajarkan bahwa spiritualitas tidak hanya hadir dalam kesunyian doa, tetapi juga dalam kebersamaan.

Pada akhirnya, Malam Likuran bukan hanya tentang menunggu datangnya Lailatul Qadar. Ia adalah perjalanan batin untuk memperbaiki diri, memperbanyak ibadah, dan memperkuat hubungan dengan sesama manusia.

Karena itu, tradisi ini layak dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Mari kita hidupkan kembali semangat Malam Likuran di Banyuwangi sebagai ruang refleksi, kebersamaan, dan penguatan iman. Siapa tahu, dari malam-malam sederhana yang kita isi dengan doa dan kebersamaan, Allah menghadirkan keberkahan yang tak pernah kita duga.

Penulis
Andi Budi Setiawan
Tanggal
15 Mar 2026
Dibaca
81 kali
Tags: #opini #ramadan #rahmah #maghfiroh #ampunan #mwcnurogojampi #pcnubanyuwangi #pwnujawatimur #pbnu #nuonline #nahdlatululama
Bagikan: