ROGOJAMPI DAN TRADISI NU YANG TETAP TERJAGA DI TENGAH PERUBAHAN ZAMAN
Opini

ROGOJAMPI DAN TRADISI NU YANG TETAP TERJAGA DI TENGAH PERUBAHAN ZAMAN

Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan pola hidup masyarakat, Rogojampi masih menyimpan satu kekuatan sosial-keagamaan yang menarik untuk direnungkan, yakni tetap terjaganya tradisi Nahdlatul Ulama (NU) di tengah kehidupan masyarakat. Tradisi itu bukan sekadar rutinitas seremonial, melainkan bagian dari denyut kehidupan warga yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Mayoritas masyarakat Rogojampi merupakan warga nahdiyin, baik secara kultural maupun struktural. Ada yang aktif menjadi pengurus organisasi NU dan badan otonomnya, ada pula yang tidak tercatat secara administratif, tetapi tetap menjalankan amaliyah dan tradisi khas NU dalam kehidupan sehari-hari. Dari langgar kecil di kampung hingga kegiatan besar tingkat kecamatan, nuansa ke-NU-an masih terasa hidup.

Fenomena ini tentu menarik. Di banyak tempat, tradisi perlahan mulai ditinggalkan karena dianggap kuno atau tidak relevan dengan perkembangan zaman. Namun di Rogojampi, tradisi NU justru tetap menjadi ruang perekat sosial, penguat spiritual, sekaligus media pendidikan karakter masyarakat.

Tradisi keagamaan dan amaliyah NU masih rutin dijalankan. Mulai dari tahlilan, yasinan, istighatsah, shalawatan, manaqiban, lailatul ijtima’, hingga khatmil Qur’an masih hidup di mushala, masjid, dan rumah-rumah warga. Kegiatan tersebut bukan hanya bentuk ibadah ritual, tetapi juga ruang silaturahmi dan pendidikan sosial yang tumbuh alami di tengah masyarakat.

Tahlilan, misalnya, bukan sekadar doa untuk orang yang telah wafat. Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, empati, dan penguatan hubungan sosial antarwarga. Ketika ada keluarga yang berduka, masyarakat datang bukan hanya membawa doa, tetapi juga menghadirkan rasa bahwa seseorang tidak sedang menghadapi musibah sendirian.

Begitu pula yasinan dan istighatsah. Tradisi ini menjadi media mendekatkan masyarakat kepada Allah SWT sekaligus membangun ketenangan batin di tengah kehidupan yang semakin sibuk dan individualistis. Dalam banyak kesempatan, kegiatan tersebut juga menjadi sarana musyawarah kecil masyarakat sebelum atau sesudah acara berlangsung.

Shalawatan dan manaqiban memiliki makna yang tidak kalah penting. Kecintaan kepada Rasulullah SAW dan para ulama ditanamkan dengan cara yang lembut dan membumi. Anak-anak tumbuh dengan mendengar pujian kepada Nabi, mengenal kisah para wali dan ulama, lalu perlahan belajar tentang akhlak, adab, dan keteladanan.

Sementara lailatul ijtima’ dan khatmil Qur’an menjadi bukti bahwa tradisi NU tidak hanya berbicara tentang ritual, tetapi juga membangun budaya ilmu dan organisasi. Ada ruang diskusi, konsolidasi, hingga penguatan jamaah yang berjalan dengan penuh kekeluargaan.

Di sisi lain, tradisi sosial dan kebudayaan khas NU juga masih terjaga dengan baik di Rogojampi. Halalbihalal, haul, ziarah kubur, ziarah wali, hingga sedekah bumi masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Tradisi ini memperlihatkan bahwa Islam dan budaya lokal dapat berjalan berdampingan tanpa harus saling meniadakan.

Halalbihalal, misalnya, bukan sekadar tradisi saling berjabat tangan setelah Idulfitri. Di dalamnya ada semangat islah, saling memaafkan, dan memperbaiki hubungan antarsesama. Dalam masyarakat yang mudah terpecah karena perbedaan pandangan, tradisi seperti ini justru menjadi perekat yang sangat penting.

Tradisi haul dan ziarah wali juga sering disalahpahami oleh sebagian pihak. Padahal, inti dari kegiatan tersebut adalah mengenang perjuangan ulama, mengambil teladan, dan mendoakan para pendahulu. Ada kesinambungan sejarah dan sanad keilmuan yang dijaga melalui tradisi tersebut.

Sedekah bumi pun demikian. Tradisi lokal yang telah diislamkan ini mengandung nilai syukur, kebersamaan, dan kepedulian sosial. Masyarakat diajak untuk menyadari bahwa hasil bumi dan kehidupan yang mereka nikmati bukan semata hasil kerja manusia, tetapi juga karunia Allah SWT yang harus disyukuri bersama.

Jika direnungkan lebih dalam, filosofi tradisi NU sebenarnya sangat relevan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara hari ini. Tradisi-tradisi tersebut mengajarkan moderasi, gotong royong, toleransi, dan penghormatan kepada sesama. Nilai-nilai itu menjadi pondasi penting dalam menjaga persatuan di tengah masyarakat yang majemuk.

NU sejak awal memang tumbuh dengan prinsip tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan ta’awun (tolong-menolong). Karena itu, tradisi yang berkembang di masyarakat nahdiyin bukan hanya soal budaya keagamaan, melainkan juga pendidikan karakter sosial yang nyata.

Rogojampi patut bersyukur karena hingga hari ini tradisi tersebut masih hidup. Namun tantangan ke depan tentu tidak ringan. Generasi muda perlu terus dikenalkan pada nilai dan filosofi di balik tradisi, bukan sekadar diajak mengikuti acara secara formalitas.

Jangan sampai generasi mendatang hanya mewarisi bentuk kegiatannya, tetapi kehilangan ruh dan maknanya. Sebab tradisi tanpa pemahaman akan mudah hilang, sedangkan tradisi yang dipahami akan tetap hidup meski zaman terus berubah.

Pada akhirnya, menjaga tradisi NU bukan berarti menolak modernitas. Justru di tengah dunia yang semakin cepat dan individualis, tradisi-tradisi itu menjadi jangkar moral agar masyarakat tetap memiliki arah, adab, dan rasa kemanusiaan.

Barangkali inilah yang perlu terus dirawat bersama: menjaga tradisi, merawat persaudaraan, dan menghadirkan Islam yang teduh dalam kehidupan sehari-hari. Karena NU sejak dulu bukan hanya soal organisasi, tetapi juga tentang cara hidup yang mengajarkan kebermanfaatan untuk umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Penulis
Andi Budi Setiawan
Tanggal
08 Mei 2026
Dibaca
53 kali
Tags: #opini #tradisinu #nahdiyin #mwcnurogojampi #pcnubanyuwangi #pwnujawatimur #pbnu #nuonline #nahdlatululama #indonesia
Bagikan: