Ramadan hari ini hadir di tengah dunia yang riuh. Linimasa media sosial lebih ramai daripada saf masjid, notifikasi gawai lebih cepat dibuka daripada mushaf Al-Qur’an, dan perdebatan sering kali lebih mudah meledak daripada doa yang lirih di sepertiga malam. Dalam situasi seperti ini, sepuluh hari pertama Ramadan sebagai fase rahmah menemukan relevansinya yang paling nyata: ia menjadi ruang teduh bagi hati yang lelah oleh kegaduhan zaman.
Dalam tradisi pesantren Ahlussunnah wal Jama’ah, rahmah bukan sekadar konsep teologis, tetapi pengalaman batin. Ia terasa ketika hati yang keras mulai melunak, ketika langkah yang berat menuju masjid tiba-tiba menjadi ringan, dan ketika seseorang yang sebelumnya jauh dari Al-Qur’an mendadak merindukan ayat-ayat-Nya. Itulah tanda rahmah bekerja. NU Online sering menegaskan bahwa fase awal Ramadan adalah momentum membangun fondasi spiritual—dan fondasi itu hari ini harus dibangun bukan hanya melawan hawa nafsu, tetapi juga melawan distraksi digital yang tak pernah tidur.
Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin mengingatkan bahwa awal yang baik menentukan akhir yang baik. Dalam konteks kekinian, “awal yang baik” tidak cukup hanya dengan niat berpuasa, tetapi juga dengan menata ulang kebiasaan hidup: membatasi konsumsi informasi yang tidak perlu, mengurangi debat yang tidak produktif, dan mengganti waktu layar dengan waktu zikir. Puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan jempol agar tidak mudah menghakimi.
Di sinilah rahmah menemukan bentuk sosialnya. Banyak konflik hari ini bukan lahir dari perbedaan prinsip, tetapi dari cara berkomunikasi yang kehilangan adab. Sepuluh hari pertama Ramadan seharusnya menjadi momentum rekonsiliasi—bukan hanya berjabat tangan secara fisik, tetapi juga membersihkan hati dari prasangka, iri, dan kebencian. Dalam pandangan ulama NU, rahmah Allah tidak turun kepada hati yang gemar memecah belah. Ia turun kepada mereka yang menjaga ukhuwah, bahkan kepada yang berbeda pandangan sekalipun.
Pesan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari tentang keseimbangan antara ibadah dan akhlak sosial menjadi sangat aktual hari ini. Kita menyaksikan orang yang rajin beribadah, tetapi mudah mencaci di ruang publik digital. Kita melihat semangat beragama yang tinggi, tetapi miskin kelembutan. Ramadan mengoreksi paradoks ini. Rahmah pada sepuluh hari pertama adalah latihan menjadi manusia yang lebih santun, bukan hanya lebih ritual.
Jika banyak orang merasa Ramadan “berjalan cepat” tanpa perubahan berarti, boleh jadi karena fase rahmah dilewati tanpa kesadaran. Ramadan dijalani seperti rutinitas tahunan: sahur, puasa, berbuka, tarawih—tetapi tanpa perencanaan ruhani. Padahal para ulama mengajarkan bahwa rahmah di awal Ramadan adalah energi awal. Tanpa energi ini, pertengahan Ramadan mudah melemah dan sepuluh hari terakhir kehilangan daya ledaknya.
Karena itu, menjadikan sepuluh hari pertama sebagai madrasah penataan hati adalah kebutuhan mendesak. Kita perlu target yang nyata: memperbaiki salat berjamaah, menata lisan dari ghibah—baik lisan nyata maupun lisan digital—memperbanyak sedekah, dan menghidupkan kembali tradisi tadarus yang mulai tergeser oleh hiburan instan. Rahmah Allah sering kali hadir dalam bentuk kemudahan untuk konsisten, bukan dalam euforia sesaat.
Pada akhirnya, sepuluh hari pertama Ramadan adalah kesempatan untuk memulihkan kemanusiaan kita. Ia mengajarkan bahwa menjadi saleh tidak cukup dengan ibadah personal, tetapi harus tercermin dalam kelembutan sosial. Di tengah dunia yang keras, rahmah adalah revolusi sunyi: memperbaiki diri tanpa gaduh, menebar kebaikan tanpa pamer, dan menjaga hati tanpa perlu pengakuan.
Siapa yang berhasil menata dirinya pada fase rahmah ini, ia telah menyiapkan jalan menuju maghfirah dan pembebasan dari api neraka. Ramadan pun tidak berhenti sebagai kalender ibadah, tetapi berubah menjadi proses transformasi—dari manusia yang reaktif menjadi reflektif, dari yang mudah menghakimi menjadi mudah mengasihi.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising, rahmah adalah bentuk ibadah yang paling kita butuhkan hari ini.