BACAAN SURAT TARAWIH: KHATAMAN LEBIH UTAMA, SUSUNAN SURAT TETAP BISA DIAMALKAN

Pembahasan tentang bacaan surat tarawih kembali menjadi perhatian jamaah menjelang Ramadhan. Banyak masyarakat bertanya apakah ada ketentuan khusus dalam memilih surat yang dibaca saat tarawih dan witir.

Para ulama menjelaskan bahwa tidak ada kewajiban membaca surat tertentu dalam salat tarawih. Yang lebih utama adalah membaca satu juz setiap malam sehingga Al-Qur’an dapat dikhatamkan selama satu bulan Ramadhan.

Penjelasan ini dapat ditemukan dalam Hasyiyatul Bajuri karya Syekh Ibrahim Al-Bajuri. Dalam kitab tersebut disebutkan bahwa membaca Al-Qur’an secara penuh selama Ramadhan lebih utama daripada mengulang surat-surat pendek tertentu.

Pendapat ini selaras dengan tradisi khataman yang hidup di lingkungan pesantren dan masjid Nahdlatul Ulama. Selain menjaga kontinuitas tilawah, cara ini juga menumbuhkan kecintaan jamaah terhadap Al-Qur’an secara menyeluruh.

Meski demikian, sebagian ulama juga memberikan panduan bacaan surat tarawih bagi jamaah yang belum mampu membaca satu juz setiap malam. Panduan ini disusun berdasarkan urutan mushaf agar tetap menjaga tartib dalam membaca Al-Qur’an.

Rujukan tersebut dapat ditemukan dalam Perukunan Melayu yang banyak digunakan sebagai pedoman praktis. Susunan ini memuat bacaan surat secara berurutan untuk 15 malam pertama dan 15 malam kedua Ramadhan.

Berikut ini susunan bacaan surat Al-Qur’an pada shalat tarawih untuk 15 hari pertama bulan Ramadhan.
1. Surat Al-Fatihah dan Surat At-Takatsur (rakaat pertama)

Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Ikhlas (rakaat kedua)

2. Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Ashr (rakaat pertama)

Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Ikhlas (rakaat kedua)

3. Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Humazah (rakaat pertama)

Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Ikhlas (rakaat kedua)

4. Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Fil (rakaat pertama)

Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Ikhlas (rakaat kedua)

5. Surat Al-Fatihah dan Surat Quraisy (rakaat pertama)

Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Ikhlas (rakaat kedua)

6. Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Ma’un (rakaat pertama)

Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Ikhlas (rakaat kedua)

7. Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Kautsar (rakaat pertama)

Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Ikhlas (rakaat kedua)

8. Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Kafirun (rakaat pertama)

Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Ikhlas (rakaat kedua)

9. Surat Al-Fatihah dan Surat An-Nashr (rakaat pertama)

Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Ikhlas (rakaat kedua)

10. Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Lahab (rakaat pertama)

Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Ikhlas (rakaat kedua)

 

Adapun berikut ini susunan bacaan surat pada shalat tarawih untuk 15 hari kedua bulan Ramadhan.

1. Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Qadr (rakaat pertama)

Surat Al-Fatihah dan Surat At-Takatsur (rakaat kedua)

2. Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Qadr (rakaat pertama)

Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Ashr (rakaat kedua)

3. Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Qadr (rakaat pertama)

Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Humazah (rakaat kedua)

4. Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Qadr (rakaat pertama)

Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Fil (rakaat kedua)

5. Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Qadr (rakaat pertama)

Surat Al-Fatihah dan Surat Quraisy (rakaat kedua)

6. Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Qadr (rakaat pertama)

Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Ma’un (rakaat kedua)

7. Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Qadr (rakaat pertama)

Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Kautsar (rakaat kedua)

8. Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Qadr (rakaat pertama)

Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Kafirun (rakaat kedua)

9. Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Qadr (rakaat pertama)

Surat Al-Fatihah dan Surat An-Nashr (rakaat kedua)

10. Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Qadr (rakaat pertama)

Surat Al-Fatihah dan Surat Al-Lahab (rakaat kedua)

Pola ini bertujuan memudahkan jamaah dalam membaca Al-Qur’an secara tertib tanpa memberatkan imam. Selain itu, susunan tersebut juga menjaga semangat kebersamaan dalam berjamaah.

Dalam praktiknya, kedua metode ini sama-sama memiliki dasar dan dapat diamalkan sesuai kemampuan. Prinsip yang perlu dijaga adalah kekhusyukan, keistiqamahan, serta menjaga ukhuwah di tengah keberagaman praktik ibadah.

Tradisi Ahlussunah wal Jama’ah mengajarkan keseimbangan antara kemudahan dan keutamaan. Jamaah yang mampu membaca satu juz dianjurkan untuk melakukannya, sementara yang belum mampu tetap mendapatkan ruang melalui susunan surat yang terarah.

Dengan memahami hal ini, perbedaan praktik tidak perlu menjadi perdebatan. Justru Ramadhan menjadi momentum memperkuat kebersamaan, memperbanyak tilawah, dan memakmurkan masjid.

Mari kita hidupkan malam-malam Ramadhan dengan salat tarawih yang khusyuk, bacaan Al-Qur’an yang istiqamah, dan hati yang saling menguatkan. Semoga setiap huruf yang kita baca menjadi cahaya yang menuntun menuju keberkahan hidup.

Penulis
Administrator
Tanggal
22 Feb 2026
Dibaca
8 kali
Tags: #artikel #salattarawih #ramadan #mwcnurogojampi #pcnubanyuwangi #pwnujawatimur #pbnu
Bagikan:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!