NGABARIN MWC NU ROGOJAMPI DI MASJID NURUL HUDA LATENG TEGUHKAN AKIDAH AHLUSSUNAH WAL JAMAAH

Banyuwangi – Kegiatan Ngaji Bareng Ranting (Ngabarin) yang digelar di Masjid Nurul Huda Dusun Lateng, Desa Gladag, Kecamatan Rogojampi berlangsung khidmat dan penuh semangat ukhuwah Nahdliyin. Kegiatan yang dihadiri jajaran pengurus NU, banom, tokoh masyarakat, hingga jamaah setempat tersebut menjadi ruang penguatan nilai-nilai Ahlussunah wal Jamaah di tengah masyarakat akar rumput.

Acara dihadiri unsur Pemerintah Desa Gladag, Kepala Dusun Lateng, Pengurus Masjid Nurul Huda Lateng, Pengurus MWC NU Rogojampi, pengurus ranting NU se-Kecamatan Rogojampi, serta banom-banom NU seperti Muslimat NU, Fatayat NU, dan GP Ansor Ranting Lateng. Jamaah Masjid Nurul Huda Lateng juga tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan hingga selesai.

Kegiatan diawali dengan pembacaan tahlil yang dipimpin oleh Syuriah Ranting NU Lateng, Ustadz Husnan. Suasana religius semakin terasa saat seluruh peserta bersama-sama melantunkan doa dan dzikir sebagai bentuk tawasul dan penguatan spiritual warga Nahdliyin.

Acara kemudian dipandu oleh Danang Firmana selaku Ketua GP Ansor Ranting Lateng yang bertugas sebagai pembawa acara. Selanjutnya, seluruh peserta berdiri menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Yalal Wathon dengan penuh semangat kebangsaan dan kecintaan terhadap Nahdlatul Ulama.

Dalam sambutannya, Kepala Dusun Lateng, Suharsono, menyampaikan salam dari Kepala Desa Gladag sekaligus dukungan penuh terhadap kegiatan Ngabarin di Masjid Nurul Huda Lateng. Ia juga mengaku bangga menjadi bagian dari keluarga besar NU yang telah mengakar kuat di lingkungan masyarakat Lateng.

“Saya bangga menjadi warga NU. Mulai dari bapak hingga kakek saya dahulu juga ikut menjadi penggerak NU di Dusun Lateng ini,” ungkap Suharsono di hadapan jamaah.

Sementara itu, Ketua Takmir Masjid Nurul Huda Lateng, Ridwan, SH, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai kegiatan Ngabarin menjadi kehormatan tersendiri bagi Masjid Nurul Huda karena dapat menjadi tempat berkumpulnya para jamaah dan pengurus NU.

“Semoga kegiatan Ngabarin ini menjadi motivasi bagi kami untuk lebih giat lagi dalam menghidupkan kegiatan keagamaan ke depan. Kami juga memohon maaf apabila masih ada kekurangan dalam menyambut seluruh jamaah,” ujarnya dengan penuh rendah hati.

Khutbah iftitah kemudian disampaikan oleh Ustadz Hariyono yang mewakili Rois Syuriah MWC NU Rogojampi. Dalam tausiyahnya, ia mengajak warga Nahdliyin agar terus semangat menjaga tradisi pengajian, tahlilan, tibaan, dan asrokolan sebagai benteng penguatan paham Ahlussunah wal Jamaah.

“Sebagai warga Nahdliyin, kita harus terus semangat menjaga kegiatan keagamaan sampai di tingkat akar rumput agar nilai-nilai Ahlussunah wal Jamaah tetap hidup di tengah masyarakat,” tuturnya.

Selanjutnya, Ketua Tanfidziyah MWC NU Rogojampi, Anwar Rofiq, menyampaikan pentingnya memperkuat tata kelola organisasi hingga tingkat ranting. Ia juga menyinggung hasil Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) PCNU Banyuwangi yang menekankan pentingnya koordinasi antara Syuriah dan Tanfidziyah dalam menjalankan program organisasi.

“Pengurus ranting harus aktif kembali menghidupkan kegiatan-kegiatan NU di masyarakat. Koordinasi yang baik antara Syuriah dan Tanfidziyah menjadi kunci agar organisasi berjalan dengan baik,” jelasnya.

Anwar Rofiq juga menyampaikan bahwa pihaknya telah mengusulkan pembaruan Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama (Kartanu) kepada PCNU Banyuwangi karena masa aktif kartu sebelumnya telah berakhir. Ia berharap administrasi organisasi dapat semakin tertata dan mempermudah pelayanan kepada warga Nahdliyin.

Memasuki acara inti, materi Ngabarin disampaikan oleh Ustadz Hawarie selaku Katib Syuriah MWC NU Rogojampi. Dalam kajiannya, ia membahas persoalan akidah tentang konsep ketuhanan dan pentingnya mensucikan Allah SWT dari keyakinan-keyakinan yang tidak sesuai dengan ajaran Ahlussunah wal Jamaah.

Ustadz Hawarie menjelaskan bahwa paham hulul dan ittihad yang menganggap Allah menyatu dengan makhluk merupakan pemahaman yang tidak dibenarkan dalam akidah Islam Ahlussunah wal Jamaah. Ia mengingatkan jamaah agar tidak mudah terbawa pemikiran yang menyimpang dari ajaran ulama salaf.

“Allah tidak menyerupai apa pun dan siapa pun. Allah tidak bertempat di dalam sesuatu dan sesuatu pun tidak berada di dalam Allah,” terangnya.

Ia juga mengutip perkataan Imam Ja’far Shadiq tentang pentingnya menjaga keyakinan terhadap sifat-sifat Allah SWT. Menurutnya, menjaga kemurnian tauhid merupakan bagian penting dalam mempertahankan akidah umat agar tidak mudah terpengaruh oleh ajaran yang keliru.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama yang dipanjatkan penuh khusyuk oleh seluruh jamaah. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terlihat hingga akhir acara sebagai wujud nyata kebersamaan warga Nahdliyin di tingkat masyarakat.

Melalui kegiatan Ngabarin seperti ini, NU tidak hanya menjaga tradisi keagamaan, tetapi juga memperkuat pendidikan akidah dan kebersamaan sosial di tengah masyarakat. Semangat merawat tradisi, memperkuat organisasi, dan menjaga ajaran Ahlussunah wal Jamaah menjadi ikhtiar bersama demi kemaslahatan umat dan bangsa.

Mari terus hidupkan majelis ilmu, pengajian, dan tradisi ke-NU-an di lingkungan masing-masing. Sebab dari majelis sederhana seperti inilah lahir kekuatan ukhuwah, ilmu, dan keberkahan untuk kehidupan masyarakat yang lebih harmonis dan religius.

Penulis
Andi Budi Setiawan
Tanggal
14 Mei 2026
Dibaca
13 kali
Tags: #kegiatan #lailatulijtima #rantingnu #muslimat #fatayat #ansor #mwcnurogojampi #pcnubanyuwangi #pwnujawatimur #pbnu #nuonline #nahdlatululama #indonesia
Bagikan:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!