Ibu dalam Pandangan Nahdlatul Ulama: Merawat Iman, Keluarga, dan Bangsa

Peringatan Hari Ibu bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Dalam pandangan Nahdlatul Ulama (NU), Hari Ibu adalah momentum reflektif untuk kembali menyadari betapa strategis dan mulianya peran seorang ibu dalam membentuk manusia, keluarga, dan peradaban bangsa. Ibu bukan hanya sosok yang melahirkan, tetapi juga pendidik, penjaga nilai, dan penopang kehidupan. Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, ibu menempati posisi luhur. Islam memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada ibu, bahkan menempatkannya di atas segalanya dalam urusan bakti seorang anak. Rasulullah Saw. bersabda, “Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian ayahmu.” Hadis ini menjadi pengingat bahwa peran ibu dalam kehidupan anak tidak tergantikan oleh apa pun. Bagi NU, ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Dari lisan ibu pertama kali anak mengenal kalimat tauhid, adab, sopan santun, serta nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Al-Qur’an mengabadikan perjuangan ibu yang mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah (QS. Luqman: 14), sebagai penegasan bahwa pengorbanan ibu bukan hanya fisik, tetapi juga batin dan jiwa. Dalam kehidupan rumah tangga, ibu berperan sebagai mitra sakral bagi suami. Pernikahan dalam Islam dipahami sebagai mitsaqan ghalizha, perjanjian yang kuat dan bernilai ibadah. Kehadiran ibu sebagai istri menjadi sumber ketenteraman, sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. Ar-Rum ayat 21. NU memandang ibu bukan sekadar pelengkap, melainkan penopang utama keharmonisan rumah tangga dan penjaga nilai-nilai keagamaan dalam keluarga. Lebih jauh, ibu adalah poros keluarga. Ia menjaga keseimbangan antara cinta dan disiplin, antara kasih sayang dan ketegasan. Ayat “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS. At-Tahrim: 6) menjadi landasan bahwa ibu memikul tanggung jawab besar dalam menanamkan iman, akhlak, dan keteladanan di lingkungan keluarga. Dalam konteks kebangsaan, Nahdlatul Ulama memandang ibu sebagai penjaga peradaban. Dari rahim dan asuhan ibu lahir generasi yang kelak menjaga agama, merawat persatuan, dan membangun bangsa. Ibu-ibu NU telah lama menjadi benteng moderasi beragama, penguat nilai Islam rahmatan lil ‘alamin, serta penanam cinta tanah air sejak dari rumah. Maka, memperingati Hari Ibu dalam perspektif NU adalah memperingati kesadaran kolektif: bahwa kemajuan bangsa tidak lahir dari ruang kosong, melainkan dari rumah yang dipenuhi doa, nilai, dan keteladanan seorang ibu. Memuliakan ibu berarti merawat masa depan agama dan bangsa. Selamat Hari Ibu. Terima kasih atas doa, cinta, dan ketulusan yang tak pernah terhitung. Dari ibu, kita belajar tentang iman, pengorbanan, dan arti pengabdian yang sesungguhnya.
Penulis
Andi Budi Setiawan
Tanggal
21 Des 2025
Dibaca
8 kali
Tags: #opini #artikel #hari ibu #ibu #mwc nu rogojampi #pcnu banyuwangi #pwnu jawa timur
Bagikan:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!