ISRA MIKRAJ DAN SHALAT: MERAWAT TRADISI, MENJAGA INTI IBADAH

Peringatan Isra Mikraj setiap tahun selalu hidup di tengah warga Nahdlatul Ulama. Masjid dan mushala dipenuhi jamaah, shalawat bergema, dan pengajian digelar dengan penuh kekhidmatan. Bagi kita, tradisi ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ikhtiar merawat ingatan kolektif umat terhadap salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah Islam. Isra Mikraj adalah perjalanan luar biasa Rasulullah ﷺ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu naik ke Sidratul Muntaha. Peristiwa ini ditegaskan langsung oleh Al-Qur’an: “Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya.” (QS. Al-Isra’: 1) Ayat ini menjadi landasan utama keyakinan umat Islam bahwa Isra Mikraj adalah peristiwa nyata, bukan sekadar mimpi atau simbol. Para ulama Ahlussunnah wal Jamaah menerima peristiwa ini dengan penuh iman, tanpa terjebak pada perdebatan yang melelahkan. Yang lebih penting bukanlah bagaimana perjalanan itu terjadi, melainkan apa pesan besar yang dibawanya bagi umat. Shalat: Hadiah Langit untuk Umat Bumi Inti dari Isra Mikraj adalah perintah shalat lima waktu. Tidak seperti ibadah lain yang disampaikan melalui perantara wahyu di bumi, shalat justru diperintahkan langsung oleh Allah SWT kepada Rasulullah ﷺ di langit. Ini menunjukkan kedudukan shalat yang sangat istimewa. Rasulullah ﷺ bersabda: “Shalat adalah tiang agama.” (HR. Thabrani) Dalam literatur Ahlussunnah wal Jamaah, shalat dipahami bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi kebutuhan ruhani. Shalat adalah mi’rajnya orang beriman—jalan naiknya hati menuju kedekatan dengan Allah SWT. Sayangnya, di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, makna shalat sering kali meredup. Kita rajin memperingati Isra Mikraj, namun kadang lalai menjaga shalat berjamaah. Kita antusias menghadiri pengajian, tetapi kurang istiqamah menghadirkan shalat sebagai pusat kehidupan sehari-hari. Isra Mikraj di Tengah Tantangan Zaman Konteks sosial hari ini memperlihatkan tantangan yang tidak ringan: krisis keteladanan, rapuhnya moral, dan melemahnya ikatan sosial. Dalam situasi seperti ini, pesan Isra Mikraj justru semakin relevan. Shalat mengajarkan disiplin waktu, ketundukan hati, dan kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap langkah hidup. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45) Bagi kita warga NU, shalat tidak berdiri sendiri. Ia hidup dalam jamaah, dalam kebersamaan di masjid, dalam irama wirid dan shalawat. Tradisi shalat berjamaah yang terus dijaga menjadi bukti bahwa Islam tidak hanya membangun kesalehan pribadi, tetapi juga kesalehan sosial. Memaknai Tradisi Peringatan Isra Mikraj Peringatan Isra Mikraj yang kita laksanakan setiap tahun sejatinya adalah sarana tadzkiroh—pengingat. Bukan untuk berhenti pada kisah perjalanan Nabi semata, tetapi untuk menguatkan kembali komitmen kita terhadap shalat dan kehidupan berjamaah. Para ulama Ahlussunnah wal Jamaah menekankan bahwa tradisi keagamaan yang baik, selama berisi dzikir, shalawat, dan penguatan iman, adalah bagian dari dakwah yang menyejukkan. Inilah wajah Islam rahmatan lil ‘alamin yang diwariskan para ulama kepada kita. Bagi kita warga Nahdlatul Ulama, peringatan Isra Mikraj adalah momentum bersama untuk meneguhkan kembali makna shalat sebagai inti ibadah dan jantung kehidupan spiritual. Melalui tradisi yang hidup dan membumi, marilah kita menguatkan shalawat, meramaikan masjid dengan shalat berjamaah, serta menjaga ikatan jamaah di lingkungan masing-masing, agar nilai-nilai Isra Mikraj tidak berhenti pada peringatan tahunan, tetapi benar-benar hadir dalam laku keseharian. Semoga Allah SWT menerima ikhtiar kita, menjaga tradisi baik yang diwariskan para ulama, dan menjadikan shalat sebagai cahaya yang menuntun langkah kita menuju kehidupan yang lebih bermakna. Wallahu a’lam bish-shawab.
Penulis
ANDI BUDI SETIAWAN
Tanggal
16 Jan 2026
Dibaca
21 kali
Tags: #opini #rangting nu #muslimat #fatayat #ansor #banser #ipnu #ippnu #isnu #pagar nusa #mwc nu #pcnu #pwnu #pbnu
Bagikan:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!