JANGAN FOKUS PADA MASALAHNYA, FOKUSLAH PADA SIAPA YANG MENGATURNYA

Ramadan bukan sekadar aktivitas fisik menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, Ramadan adalah momentum untuk menata batin dan memperdalam ma’rifatullah—mengenal Allah secara lebih dekat dan penuh kesadaran. Di bulan inilah umat Islam diajak memperbaiki orientasi hidup, dari sekadar rutinitas ibadah menuju kedalaman makna spiritual.

Dalam khazanah pesantren, pesan ini dapat ditemukan dalam kitab Nashoihul Ibad karya ulama Nusantara terkemuka, Syekh Nawawi al-Bantani. Kitab tersebut memuat banyak nasihat hikmah yang relevan bagi kehidupan umat. Salah satunya adalah pesan yang disampaikan Allah kepada Nabi Nabi Uzair a.s.

Pesan ini mengajarkan bahwa dalam menjalani kehidupan, manusia tidak hanya melihat peristiwa yang terjadi. Lebih dari itu, manusia diajak menyadari siapa yang berada di balik semua ketetapan tersebut, yakni Allah SWT. Dari sinilah lahir prinsip spiritual: jangan fokus pada masalahnya, tetapi fokuslah pada siapa yang mengaturnya.

Evaluasi terhadap Dosa Kecil

Dalam perjalanan spiritual, sering kali seseorang merasa aman karena telah menjauhi dosa besar. Namun, pada saat yang sama, ia bisa saja meremehkan dosa-dosa kecil yang dianggap sepele. Padahal, sikap meremehkan ini justru dapat melemahkan sensitivitas hati.

Melalui Nabi Uzair, Allah memberikan peringatan yang sangat mendalam:

"Janganlah engkau fokus pada dimensi kecilnya dosa tersebut, melainkan pandanglah keagungan Zat yang engkau langgar ketentuannya."

Pesan ini menegaskan bahwa ukuran dosa tidak semata-mata dilihat dari besar kecilnya perbuatan. Yang jauh lebih penting adalah kesadaran bahwa setiap pelanggaran berarti melanggar ketentuan Allah yang Maha Agung. Kesadaran inilah yang akan menjaga seorang hamba tetap rendah hati dan berhati-hati dalam menjalani hidup.

Dimensi Syukur atas Rezeki

Ramadan juga mengajarkan nilai qana’ah, yakni sikap merasa cukup atas apa yang diberikan Allah. Ketika berbuka puasa dengan hidangan sederhana, kita sering merasakan kebahagiaan yang tulus. Hal ini menjadi pengalaman nyata tentang bagaimana rasa syukur bekerja dalam kehidupan manusia.

Pesan Allah kepada Nabi Uzair juga menyinggung persoalan rezeki:

"Apabila engkau menerima rezeki dalam jumlah sedikit, janganlah melihat kuantitasnya, melainkan lihatlah siapa yang memberikan rezeki tersebut."

Nasihat ini mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu bergantung pada banyaknya harta. Justru ketika seseorang menyadari bahwa rezeki berasal dari Allah, sekecil apa pun nikmat itu akan terasa besar dan penuh berkah. Fokus pada Sang Pemberi menjadikan hati lebih tenang dan jauh dari keluhan.

Ketahanan Mental dalam Menghadapi Ujian

Puasa juga merupakan latihan ketahanan mental atau resiliensi. Dalam kehidupan, setiap orang pasti menghadapi ujian, baik berupa kesulitan ekonomi, kesehatan, maupun persoalan keluarga. Islam mengajarkan agar ujian tersebut dihadapi dengan kesabaran dan kepercayaan kepada Allah.

Dalam pesan yang sama, Allah mengingatkan:

"Janganlah mengeluhkan ketetapan-Ku kepada sesama makhluk, sebagaimana Aku tidak membeberkan kekuranganmu kepada para malaikat-Ku."

Pesan ini mengandung nilai adab spiritual yang sangat tinggi. Allah menutup aib manusia, maka sudah sepatutnya manusia menjaga kehormatan hubungan dengan Tuhannya dengan tidak mengeluhkan takdir secara berlebihan di hadapan manusia.

Membedakan Kejujuran dan Keluhan

Meski demikian, Islam tidak menutup ruang bagi manusia untuk mengungkapkan kesulitan. Dalam tradisi ulama, terdapat penjelasan penting mengenai perbedaan antara kejujuran dan keluhan.

Ulama besar Sufyan ibn Uyainah menjelaskan bahwa menyampaikan kondisi sulit kepada orang lain tetap diperbolehkan. Hal ini selama hati tetap menerima ketentuan Allah dan tidak berubah menjadi bentuk protes terhadap takdir.

Penjelasan ini dapat dilihat dari dialog antara Nabi Muhammad SAW dengan Malaikat Jibril ketika Rasulullah sedang sakit. Ketika ditanya tentang keadaannya, beliau menjawab dengan jujur:

"Ya Jibril, aku merasakan gelisah dan sedih."

Jawaban tersebut menunjukkan sisi kemanusiaan Rasulullah. Ia bukan keluhan yang menolak takdir, melainkan ungkapan jujur tentang kondisi yang sedang dirasakan.

Menata Orientasi Hidup di Bulan Ramadan

Pada akhirnya, Ramadan mengajarkan kita untuk memperbaiki cara pandang terhadap kehidupan. Kita tidak hanya melihat besar kecilnya persoalan, tetapi juga menyadari siapa yang mengatur semua peristiwa itu.

Pesan dalam Nashoihul Ibad mengingatkan bahwa ketenangan hidup lahir dari kedekatan kepada Allah. Ketika hati fokus kepada Sang Pengatur, masalah sebesar apa pun dapat dihadapi dengan lebih lapang.

Karena itu, mari kita jadikan Ramadan sebagai momentum untuk memperdalam ma’rifatullah dan menata kembali orientasi hidup. Mulailah dengan memperbanyak syukur, memperhalus kepekaan terhadap dosa, serta menjaga kesabaran dalam menghadapi ujian.

Jika nilai-nilai ini terus kita hidupkan, insyaAllah kehidupan pribadi dan sosial akan menjadi lebih sejuk, penuh keberkahan, serta membawa kemaslahatan bagi sesama. Mari kita sebarkan semangat kebaikan ini kepada keluarga, sahabat, dan lingkungan sekitar agar Ramadan benar-benar menjadi madrasah yang menumbuhkan kedewasaan spiritual bagi kita semua.

Editor Andi Budi Setiawan

Penulis
M Sadam Muarif, S.Psi, M.Pd. (Santri Ust Hawari)
Tanggal
05 Mar 2026
Dibaca
27 kali
Tags: #artikel #kajian #kitabnasoihulibad #rantingnujajangsurat #mwcnurogojampi #pcnubanyuwnagi #pwnujawatimur #pbnu #nahdlatululama
Bagikan:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!