JURNAL RAMADHAN: MENATA HATI DI JAJANGSURAT, MENJAGA AGAMA DARI KILAU DUNIA

Hari keenam Ramadhan di Dusun Jajangsurat, Karangbendo, terasa sejuk dan menenangkan. Di kediaman Katib Syuriyah MWCNU Rogojampi (RT/RW 04), para santri kembali berkumpul dalam majelis kajian kitab kuning secara kilatan. Tradisi ini menjadi ikhtiar menata hati sekaligus menjaga agama dari kilau dunia.

Kitab Kajian: Nasoihul Ibad karya Syekh Nawawi Al-Bantani.

Kitab ini menjadi rujukan utama dalam majelis, menghadirkan mutiara nasihat yang menyejukkan dan relevan dengan kehidupan santri masa kini.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pintu rumah beliau terbuka bagi para pencari ilmu. Para santri duduk bersila dengan penuh khidmah, menyimak uraian hikmah dari Nasoihul Ibad. Suasana sederhana itu menghadirkan keteduhan dan kebersamaan khas majelis Ahlussunnah wal Jama’ah.

Pesan Utama: Melawan Arus Zaman Internet

Dalam bimbingannya, beliau menekankan tantangan Generasi Z di tengah gempuran media sosial. Layar ponsel sering menjadi rujukan gaya hidup yang menggeser kompas nilai. Karena itu, para santri diingatkan agar tidak jemu menuntut ilmu agama sebagai penuntun menuju rida Allah SWT.

Fenomena “silau dunia” menjadi perhatian khusus dalam majelis tersebut. Banyak orang mengukur kemuliaan dari harta dan jabatan, bahkan tetap memuliakan meski mengetahui adanya perilaku korup di baliknya. Padahal, syariat Islam melarang penghormatan yang hanya didasarkan pada materi.

Beliau kemudian menyitir sabda Rasulullah SAW yang menyentuh hati,
“Barang siapa merendahkan diri kepada orang kaya karena kekayaannya, maka dia benar-benar telah kehilangan dua pertiga agamanya.” Pesan ini menjadi pengingat bahwa tawadhu harus berlandaskan penghormatan kepada ilmu dan amal, bukan kepada harta.

Penjelasan tersebut dikuatkan dengan dawuh ulama dalam Nasoihul Ibad bahwa kemuliaan sejati terletak pada keluhuran ilmu dan kebaikan amal. Menghormati orang berilmu berarti memuliakan syariat. Sebaliknya, memuliakan karena harta semata dapat meremehkan nilai keilmuan.

Majelis kemudian dihiasi kisah sufistik tentang Abu Bakar asy-Syibli, seorang waliyullah yang dikenal dalam tradisi tasawuf. Dikisahkan, setelah wafat beliau bermimpi berdialog dengan Allah SWT tentang sebab diampuni dosanya.

Dalam dialog itu Allah bertanya, “Wahai Aba Bakar asy-Syibli, apakah kamu tahu sebab Aku mengampunimu?”

Beliau menjawab, “Karena beberapa amalku.”

Allah berfirman, “Tidak.”

Beliau menjawab lagi, “Karena keikhlasan ibadahku.”

Allah berfirman, “Tidak.”

Beliau menyebutkan haji, puasa, shalat, ziarah kepada orang saleh, dan menuntut ilmu, namun semua dijawab, “Tidak.”

Kemudian beliau bertanya, “Wahai Tuhanku, sebab apa?”
Allah berfirman, “Apakah kamu ingat ketika berjalan di gang Kota Baghdad dan mendapati kucing kecil yang lemah karena kedinginan, lalu kamu masukkan ke kantongmu agar hangat?”
Beliau menjawab, “Iya, aku ingat.”

Allah berfirman, “Karena kamu mengasihi kucing itu, maka Aku pun mengasihimu dan mengampunimu.”
Kisah ini menegaskan bahwa amalan kecil yang dilandasi kasih sayang dapat menjadi sebab turunnya rahmat Allah SWT.

Hikmah tersebut mengajarkan bahwa menjaga agama tidak hanya melalui ibadah ritual, tetapi juga melalui kepedulian sosial. Mengasihi makhluk yang dianggap remeh sekalipun merupakan bagian dari menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Inilah jalan menuju ampunan dan kemaslahatan.

Kajian sore itu ditutup dengan pesan agar para santri tidak silau oleh gemerlap kekayaan duniawi. Ilmu dan amal harus tetap menjadi pijakan dalam menilai kemuliaan. Dengan demikian, arah hidup tetap lurus menuju rida Allah SWT.

Sebagai penutup majelis, para santri bergantian bersalaman dengan sang guru. Tradisi ini menjadi simbol ketawadhuan dan penghormatan kepada ahli ilmu. Dari majelis sederhana di Jajangsurat, cahaya ilmu dibawa pulang untuk menerangi kehidupan.

Jurnal Ramadhan ini mengingatkan bahwa ampunan Allah SWT terjadi karena melaksanakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan mengasihi sesuatu yang dianggap remeh. Mari terus merawat tradisi ilmu, menebar kasih, dan menjaga hati dari kilau dunia demi kemaslahatan umat dan keberkahan bersama.

Editor Andi Budi Setiawan

Penulis
Ust. Ridho Hawarie (Katib Syuriah MWC NU Rogojampi)
Tanggal
24 Feb 2026
Dibaca
20 kali
Tags: #artikel #kajian #kitabnasoihulibad #rantingnujajangsurat #mwcnurogojampi #pcnubanyuwnagi #pwnujawatimur #pbnu #nahdlatululama
Bagikan:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!