LAILATUL QADAR DALAM PERSPEKTIF AKADEMIK DAN TRADISI KEILMUAN NAHDLATUL ULAMA

Lailatul Qadar merupakan salah satu konsep sentral dalam spiritualitas Islam yang memiliki kedudukan istimewa dalam Al-Qur’an dan tradisi keilmuan Islam. Dalam Surah Al-Qadr, malam ini digambarkan sebagai malam yang lebih baik daripada seribu bulan, menjadi momentum turunnya Al-Qur’an, serta waktu di mana malaikat turun membawa rahmat dan ketetapan Allah SWT. Dalam tradisi keilmuan Nahdlatul Ulama (NU), Lailatul Qadar dipahami tidak hanya secara normatif-teologis, tetapi juga secara kontekstual dan etis.

Kajian akademik yang dilakukan oleh peneliti dari lingkungan perguruan tinggi Islam, yang secara kultural dan intelektual dekat dengan tradisi NU, menempatkan Lailatul Qadar sebagai simbol kemuliaan waktu dan kedalaman makna spiritual. Penelitian Khoirurroziqin dalam Al-Kamal: Jurnal Kajian Islam menegaskan bahwa istilah qadr mengandung makna kemuliaan, ketetapan, dan ukuran. Makna tersebut menunjukkan bahwa Lailatul Qadar bukan sekadar malam ibadah, melainkan momentum penentuan arah hidup manusia melalui kesadaran spiritual dan etika.

Dalam perspektif Aswaja an-Nahdliyah, sebagaimana tercermin dalam pemikiran para ulama NU, Lailatul Qadar tidak selalu dimaknai sebagai pengalaman mistik yang kasatmata. Gus Baha’, salah satu ulama NU kontemporer, menegaskan bahwa seseorang dapat memperoleh keutamaan Lailatul Qadar tanpa harus menyaksikan tanda-tanda luar biasa. Yang terpenting adalah kesungguhan ibadah, keikhlasan niat, dan perubahan perilaku menuju kebaikan. Pandangan ini sejalan dengan pendekatan NU yang menekankan substansi ibadah dibanding simbolisme semata.

Secara akademik, pendekatan ini memperkaya kajian Lailatul Qadar dengan dimensi praksis dan sosial. Lailatul Qadar dipahami sebagai sarana pembentukan karakter, penguatan kesadaran moral, dan pembaruan komitmen keimanan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya—seperti kesungguhan, ketundukan, dan harapan—menjadi fondasi penting dalam kehidupan sosial masyarakat Muslim, khususnya warga NU.

Dalam konteks kehidupan modern yang sarat dengan distraksi dan krisis makna, pemaknaan Lailatul Qadar ala NU menawarkan jalan tengah antara spiritualitas dan realitas sosial. Malam mulia ini tidak hanya mendorong peningkatan ibadah personal, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kolektif untuk menghadirkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin melalui sikap moderat, toleran, dan berakhlak.

Dengan demikian, Lailatul Qadar dalam perspektif akademik dan tradisi NU bukan sekadar peristiwa ritual tahunan, melainkan momentum transformasi spiritual dan sosial yang relevan sepanjang zaman.

Penulis
Andi Budi Setiawan
Tanggal
17 Mar 2026
Dibaca
19 kali
Tags: #artikel #lailatulqodar #SpiritRamadan #MalamSeribuBulan #HikmahRamadan #ramadan #mwcnurogojampi #pcnubanyuwangi #pwnujawatimur #pbnu #nahdlatululama
Bagikan:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!