ROGOJAMPI – Tradisi ngaji kilatan kitab Nasoihul Ibad kembali hidup di Dusun Jajang Surat RT 04/RW 04 setiap malam Ramadan. Bertempat di kediaman KH. Hawarie, Katib Syuriyah MWCNU Rogojampi, para santri tekun mempelajari mutiara hikmah ulama sebagai bekal menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat.
Kegiatan berlangsung seusai salat Tarawih dalam suasana khidmat dan sederhana. Para santri duduk melingkar, menyimak penjelasan kitab karya Syekh Nawawi Al-Bantani yang sarat nilai tasawuf dan akhlak.
KH. Hawarie menegaskan pentingnya santri memiliki kedalaman akhlak sebagaimana kaum sufi. Menurut beliau, spiritualitas harus terus dipupuk, namun keterampilan hidup duniawi juga perlu dikembangkan secara seimbang.
“Santri harus mampu menjaga keseimbangan. Hatinya dekat kepada Allah, tetapi langkahnya tetap membumi dan bermanfaat bagi masyarakat,” tutur beliau.
Dalam kajian tersebut, beliau mengutip maqalah ke-19 dari ulama tabi’in Yahya bin Muadz Ar-Razi tentang hakikat kebahagiaan. Ada tiga bekal yang harus dipersiapkan seorang hamba sebelum menempuh perjalanan panjang menuju akhirat.
Pertama, meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya. Maknanya adalah menggunakan harta untuk kebaikan, seperti menafkahi keluarga dan bersedekah, sebelum harta itu hilang.
Kedua, membangun kubur sebelum memasukinya, yakni memperbanyak amal saleh sebagai teman di alam barzakh. Ketiga, mencari rida Allah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya sebagai bekal perjumpaan dengan Sang Khalik.
Selain itu, KH. Hawarie juga menyampaikan wasiat Sayyidina Ali RA tentang tiga kebiasaan yang harus dimiliki seorang mukmin. Ketiganya menjadi fondasi akhlak dalam kehidupan sosial.
Pertama, meneladani sifat Allah sebagai Sattarul ‘uyub, yakni menutup aib orang lain. Beliau mengingatkan agar santri tidak mudah menyebarkan keburukan, baik dalam pergaulan sehari-hari maupun di media sosial.
Kedua, meneladani akhlak Rasulullah dengan bersikap lemah lembut dan penuh kasih. Ketiga, meneladani kesabaran para wali yang luas laksana samudra, termasuk menahan diri untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan.
KH. Hawarie juga menekankan pentingnya islah atau rekonsiliasi dalam kehidupan bermasyarakat. Memaafkan, menurut beliau, merupakan jalan kemuliaan yang dicintai Allah.
“Membalas keburukan dengan keburukan itu mungkin adil, tetapi memaafkan dan memperbaiki hubungan jauh lebih utama,” tegasnya.
Kegiatan ngaji kilatan Nasoihul Ibad di Jajang Surat ini tidak hanya memperkuat keilmuan santri, tetapi juga menumbuhkan budaya adab dan kebersamaan. Di akhir majelis, para santri bersalaman dengan penuh takzim sebagai bentuk penghormatan kepada guru.
Tradisi ini menjadi bukti bahwa Ramadan bukan hanya momentum ibadah personal, tetapi juga ruang memperdalam ilmu dan memperkuat akhlak sosial. Nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah tampak hidup dalam keseimbangan antara dzikir, pikir, dan khidmah.
MWCNU Rogojampi mengajak masyarakat untuk terus menghidupkan majelis ilmu di lingkungan masing-masing. Dengan menghadiri pengajian, menjaga adab, dan mengamalkan ilmu, kita turut memungut mutiara hikmah yang akan menerangi kehidupan dunia dan akhirat.