ROGOJAMPI – Di bawah temaram lampu Dusun Jajang Surat RT 04/RW 04, sebuah tradisi mulia terus dijaga. Setiap malam usai salat Tarawih, MR. Hawarie selaku Katib Syuriyah MWCNU Rogojampi setia menemani para santrinya dalam majelis ilmu yang hangat dan penuh keberkahan.
Beliau tidak sekadar mengajar, melainkan “ngopeni” jiwa para santri. Mutiara-mutiara hikmah yang mulai pudar di tengah hiruk-pikuk dunia dihadirkan kembali untuk menjadi perhiasan akhlak dan penguat langkah dalam menjalani kehidupan.
Ramadan kali ini, mutiara itu digali dari kedalaman kitab Nasoihul Ibad. Dengan penuh ketulusan, Kyai Hawarie mengajak para santri menyelami wasiat-wasiat langit yang sarat nilai ketauhidan, ketaatan, dan ketawadhuan.
Tiga Pilar Kehidupan: Islam, Taat, dan Mati
Mengutip dawuh Sayyidina Ali RA, beliau menekankan bahwa keberuntungan sejati manusia bukan terletak pada harta. Ada tiga pilar utama yang menjadi penopang keselamatan hidup seorang mukmin.
Pertama, Islam sebagai nikmat yang paling utama. Kedua, ketaatan kepada Allah sebagai kesibukan yang paling mulia. Ketiga, kematian sebagai penasihat yang paling mengena di hati.
Dengan tutur yang lembut namun bertenaga, beliau menyampaikan,
“Cukuplah Islam bagi kita, cukuplah taat sebagai pengisi waktu kita, dan cukuplah kematian sebagai pengingat langkah kita.”
Pesan tersebut mengajak para santri untuk memaknai hidup secara sederhana namun mendalam. Islam dijadikan pegangan, ketaatan sebagai jalan, dan kematian sebagai pengingat agar tidak terlena oleh dunia.
Mengetuk Pintu Derajat Tinggi
Kyai Hawarie kemudian menyitir sabda Baginda Nabi SAW tentang rahasia tingginya derajat seorang hamba. Kemuliaan itu ternyata tersembunyi dalam amal-amal sederhana yang dilakukan dengan istiqamah.
Amal tersebut di antaranya menebar salam tanpa pilih kasih, memuliakan tamu, memberi makan orang yang lapar, serta mendirikan tahajud saat kebanyakan manusia terlelap. Nilai-nilai ini mencerminkan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah yang menekankan keseimbangan antara ibadah dan kepedulian sosial.
Beliau juga menambahkan bahwa perlindungan Allah di hari akhir kelak diberikan kepada mereka yang tangguh dalam ketaatan. Mereka yang menyempurnakan wudu di tengah dingin, melangkah ke masjid dalam gelap, dan ringan tangan bersedekah kepada fakir miskin termasuk golongan yang mendapat naungan Arsy.
Rahasia Sang Kekasih Allah (Khalilullah)
Sebagai pamungkas yang menggetarkan hati, disampaikan kisah tentang Nabi Ibrahim AS. Ketika ditanya mengapa Allah menjadikannya sebagai Khalilullah, beliau menyebutkan tiga kunci utama yang menjadi teladan sepanjang zaman.
Pertama, mendahulukan perintah Allah di atas segalanya. Kedua, tidak merisaukan rezeki yang telah dijamin oleh-Nya. Ketiga, tidak pernah makan sendirian tanpa kehadiran tamu.
Dengan penuh motivasi, Kyai Hawarie menegaskan,
“Jika ingin disayang Allah, maka dahulukan perintah-Nya, kesampingkan urusan pribadi sejenak. Jangan sibuk mengurus rezeki yang sudah diurus Allah, tugas kita hanyalah beribadah dan bersedekah.”
Pesan ini menanamkan keyakinan bahwa hidup akan terasa lapang ketika orientasi utamanya adalah ketaatan. Rezeki bukan untuk dikhawatirkan, melainkan disyukuri dan dibagikan kepada sesama.
Pulang Membawa Cahaya
Majelis ditutup dengan pemandangan syahdu khas tradisi pesantren. Para santri bersalaman satu per satu, mengharap barokah dari sang guru sekaligus mempererat ukhuwah.
Mereka pulang menembus malam dengan langkah yang berbeda dari sebelumnya. Ada cahaya ilmu yang kini berpijar di dada, menjadi penuntun dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Tradisi mencari mutiara hikmah di Jajang Surat ini menjadi bukti bahwa majelis ilmu adalah ruang khidmah yang menjaga keberlanjutan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin. Dari majelis sederhana, lahir generasi yang berakhlak, moderat, dan peduli terhadap kemaslahatan umat.
Mari kita rawat tradisi majelis ilmu, memuliakan guru, dan menebar salam kepada sesama. Semoga setiap langkah kecil dalam mencari ilmu menjadi jalan turunnya barokah, sekaligus menghadirkan cahaya bagi diri, lingkungan, dan umat.
Editor Andi Budi Setiawan