MENGAIS BAROKAH RAMADAN DI JAJANG SURAT: KAJIAN NASOIHUL IBAD SEMAI BENIH MAKRIFAT

MENGAIS BAROKAH RAMADAN DI JAJANG SURAT: KAJIAN NASOIHUL IBAD SEMAI BENIH MAKRIFAT

ROGOJAMPI – Memasuki hari keenam Ramadan, suasana Dusun Jajang Surat RT 04/RW 04 semakin hidup dengan gelaran kajian kitab klasik Nasoihul Ibad. Bertempat di kediaman MR. Hawarie, Katib Syuriyah MWCNU Rogojampi, para santri mengikuti pengajian kilatan yang sarat nilai makrifat dan penguatan akidah Ahlussunnah wal Jama’ah.

Kajian ini menjadi ikhtiar menjaga tradisi intelektual pesantren di tengah masyarakat. Kyai MR. Hawarie secara istiqamah menanamkan “benih-benih mutiara” keilmuan melalui karya ulama besar Syekh Nawawi Al-Bantani, sebagai bekal spiritual santri dalam menjalani Ramadan.

Kajian kilatan ini bukan sekadar rutinitas. Bagi KH. Hawarie, kegiatan tersebut merupakan ikhtiar tulus untuk membentengi iman para santri agar tetap teguh di jalur Ahlussunnah wal Jama’ah.

Ketaatan sebagai Cermin Makrifat

Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa istiqamah dalam ketaatan merupakan kunci untuk mengenal Sang Pencipta. Mengutip maqalah dalam kitab tersebut, beliau menyampaikan sebuah perumpamaan:

“Semangat melakukan ketaatan menunjukkan pengenalan kepada Allah, sebagaimana gerak badan menunjukkan adanya kehidupan.”

Artinya, perilaku zahir merupakan cerminan dari kondisi batin. Semakin tinggi ketaatan seorang hamba, semakin dalam pula tingkat makrifatnya kepada Allah SWT. Sebaliknya, minimnya ketaatan menjadi tanda meredupnya kesadaran ruhani seseorang.

Ilmu dan Amal: Paspor Kehormatan

Tidak hanya menekankan aspek batin, KH. Hawarie juga membekali para santri dengan motivasi sosial. Beliau menegaskan bahwa santri harus unggul dalam keilmuan sekaligus nyata dalam pengamalan.

“Tidak ada kata terasing bagi orang yang berilmu, dan tidak ada tempat bagi orang yang bodoh,” tegas beliau mengutip isi kitab.

Pesannya jelas. Orang yang berilmu dan mengamalkannya akan senantiasa dihormati serta diterima di mana pun berada. Ilmu menjadi bekal terbaik dalam mengarungi kehidupan.

Kajian berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh kekeluargaan. Para santri menyimak dengan antusias, mencatat poin-poin penting, serta berdiskusi ringan setelah pengajian selesai.

Tradisi khas pesantren pun menutup majelis dengan penuh adab. Para santri mengantre bersalaman dan mencium tangan guru sebagai bentuk ta’dzim serta mengharap barokah ilmu.

Momentum ini menjadi pengingat bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga ruang memperdalam makrifat, memperkuat ilmu, dan menumbuhkan akhlak mulia. Nilai-nilai Aswaja yang moderat, santun, dan berorientasi pada kemaslahatan umat tampak nyata dalam kegiatan tersebut.

MWCNU Rogojampi mengajak seluruh warga Nahdliyin untuk terus menghidupkan majelis ilmu di lingkungan masing-masing. Dengan menghadiri pengajian, mengamalkan ilmu, dan menjaga tradisi keilmuan ulama, kita turut menanam benih kebaikan bagi generasi mendatang serta mengais barokah Ramadan secara nyata.

Editor Andi Budi Setiawan

Penulis
Ustad Ridho Hawarie (Katib Syuriah MWC NU Rogojampi)
Tanggal
23 Feb 2026
Dibaca
31 kali
Tags: #kegiatan #kajian #pengajian #syiar #dakwah #nasoihulibad #mwcnurogojampi #pcnubanyuwangi #pwnujawatimur #pbnu #nahdlatululama
Bagikan:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!