JAJANGSURAT – Di tengah memanasnya situasi geopolitik di berbagai belahan dunia, khususnya di kawasan Timur Tengah, pesan kesejukan justru lahir dari lingkungan kecil di Dusun Jajangsurat, Rogojampi. Dalam sebuah kajian kitab Nasoihul Ibad, masyarakat diajak kembali meneguhkan tujuan utama kehidupan manusia, yakni beribadah kepada Allah SWT.
Kajian kitab Nasoihul Ibad tersebut disampaikan oleh Mr. Hawarie, Katib Syuriah MWCNU Rogojampi, dalam forum pengajian rutin di lingkungan RT/RW 04. Kegiatan ini dihadiri oleh para santri dan warga sekitar yang mengikuti pengajian dengan penuh khidmat dan perhatian.
Dalam kesempatan itu, Mr. Hawarie mengingatkan bahwa berbagai peristiwa dunia, termasuk konflik antarnegara, tidak boleh membuat seorang Muslim lalai dari kewajiban ibadah. Hiruk-pikuk dunia harus tetap ditempatkan secara proporsional agar tidak mengaburkan tujuan hakiki penciptaan manusia.
Menurutnya, Islam mengajarkan keseimbangan antara kepedulian terhadap kondisi dunia dan komitmen terhadap ibadah kepada Allah SWT. Karena itu, umat Islam perlu menjaga ketenangan batin dengan memperkuat fondasi spiritual.
Dalam penjelasannya, Mr. Hawarie mengutip maqolah ke-45 dari kitab Nasoihul Ibad karya Syekh Nawawi Al-Bantani. Ia menegaskan bahwa ibadah yang sempurna harus mencakup tiga tingkatan utama yang saling berkaitan, yakni syariat, thoriqoh, dan makrifat.
Syariat merupakan fondasi dasar dalam menjalankan ibadah sesuai dengan hukum fikih, termasuk syarat dan rukun yang telah ditetapkan. Tanpa syariat, ibadah dianggap tidak sah dan kehilangan dasar hukum yang jelas.
Sementara itu, thoriqoh merupakan jalan untuk menghidupkan ibadah dengan kesungguhan ilmu dan amal. Ibadah yang hanya berhenti pada aspek syariat tanpa diiringi penghayatan akan terasa kosong dan kehilangan makna spiritualnya.
Adapun makrifat merupakan buah dari perjalanan ibadah seorang hamba. Pada tingkatan ini, seseorang mampu merasakan kehadiran Allah dalam setiap ibadah yang dilakukan sehingga menghadirkan kekhusyukan yang mendalam.
“Sholat bukan sekadar gerakan sah secara fikih, tapi hati harus hadir dan merasa berhadapan langsung dengan Allah. Itulah buah dari ibadah kita,” ujar Mr. Hawarie di hadapan para santri dan warga.
Selain membahas tiga pilar ibadah tersebut, Mr. Hawarie juga menjelaskan konsep iffah, yaitu menjaga kehormatan diri sebagai seorang mukmin. Ia menekankan bahwa seorang Muslim harus memiliki keyakinan kuat bahwa Allah adalah satu-satunya pemberi rezeki.
Dengan keyakinan tersebut, seseorang tidak akan merendahkan diri dengan bergantung sepenuhnya kepada manusia. Sebaliknya, ia akan tetap berusaha dengan ikhtiar yang baik sambil bertawakal kepada Allah SWT.
Menurutnya, sikap iffah akan melahirkan keteguhan iman dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Ketika seseorang yakin bahwa Allah adalah penjamin rezeki, maka ia tidak mudah putus asa ataupun kehilangan harapan.
Lebih jauh, ia juga menyinggung tentang pentingnya sikap ridha dalam kehidupan seorang Muslim. Ridha berarti menerima segala ketentuan Allah dengan hati yang lapang, baik dalam kondisi yang menyenangkan maupun dalam keadaan yang penuh ujian.
Sikap ridha ini menjadi bagian dari puncak ketakwaan seorang hamba kepada Tuhannya. Dengan ridha, seseorang akan tetap bersyukur ketika mendapat nikmat dan tetap bersabar ketika menghadapi kesulitan.
Penjelasan tersebut mencerminkan nilai-nilai ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah yang selama ini dijaga oleh para ulama Nusantara. Jalan moderasi, keseimbangan, dan ketenangan batin menjadi kunci dalam menjaga keselamatan iman di tengah dinamika kehidupan dunia.
Di saat dunia dipenuhi berbagai kekhawatiran dan ketidakpastian, ajaran-ajaran spiritual seperti ini menjadi “permata” yang perlu dirawat bersama. Melalui pengajian dan majelis ilmu, masyarakat dapat memperkuat keimanan sekaligus menjaga ketenangan hati.
Kajian kitab Nasoihul Ibad di Dusun Jajangsurat ini menjadi contoh sederhana bagaimana nilai-nilai Islam terus hidup di tengah masyarakat. Dari majelis kecil seperti ini, pesan-pesan kebijaksanaan ulama dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diajak untuk tetap istiqomah menjalankan tugas sebagai hamba Allah SWT. Situasi dunia yang penuh dinamika tidak seharusnya melemahkan semangat ibadah dan pengabdian kepada Sang Pencipta.
Mari kita terus merawat “permata iman” melalui majelis ilmu, memperkuat ibadah, serta menjaga akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, kedamaian hati dan kemaslahatan bersama dapat terus tumbuh di tengah masyarakat.