BANYUWANGI – Tradisi ngaji kilatan Kitab Nashoihul Ibad kembali hidup di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) Rogojampi pada bulan suci Ramadan. Kegiatan yang digelar di RT/RW 04 Dusun Jajangsurat ini menjadi ruang khidmah untuk memperdalam ilmu sekaligus meneguhkan nilai Ahlussunnah wal Jama’ah.
Pengajian kilatan tersebut diasuh oleh Katib Syuriyah MWC NU Rogojampi, Mr. Hawarie, dan diikuti para santri serta warga sekitar. Kitab yang dikaji adalah Nashoihul Ibad karya ulama besar Nusantara, Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani.
Memasuki malam keempat Ramadan, suasana pengajian berlangsung khidmat dan penuh kekhusyukan. Para santri menyimak dengan saksama setiap penjelasan, mencatat, serta berdialog ringan dalam nuansa kekeluargaan.
Dalam pengajian tersebut, Mr. Hawarie menekankan pentingnya “politik batin” dalam diri manusia, yakni pertarungan antara akal dan hawa nafsu. Ia menjelaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh jabatan atau status sosial, melainkan oleh kemampuannya mengendalikan diri.
“Sesungguhnya seorang raja bisa jatuh derajatnya menjadi hamba hanya karena menuruti syahwatnya. Siapa pun yang mencintai sesuatu secara berlebihan, dia akan menjadi budak dari apa yang dicintainya itu,” tutur beliau saat membedah isi kitab.
Sebaliknya, kesabaran menjadi jalan menuju kemuliaan. Menurutnya, seorang hamba yang mampu bersabar justru memiliki marwah layaknya raja di hadapan Allah SWT.
Pesan lain yang disampaikan adalah pentingnya menjadikan akal sebagai pemimpin dalam kehidupan. Ia mengingatkan bahwa kehancuran besar terjadi ketika hawa nafsu memegang kendali, sementara akal sehat justru terpenjara.
“Sangat beruntung orang yang mampu menawan hawa nafsunya di bawah kendali akal. Namun celaka bagi mereka yang akalnya ditawan oleh keinginan nafsu,” tegasnya.
Selain itu, para santri juga diajak menjaga kebersihan hati melalui dua jalan utama, yakni menjauhi dosa dan menjaga kehalalan makanan. Menurutnya, hati yang bersih akan lebih mudah menerima nasihat dan ilmu.
“Barang siapa meninggalkan perbuatan dosa, maka lenturlah hatinya. Dan barang siapa memakan yang halal, maka beninglah pikirannya,” tambahnya mengutip maqolah dalam kitab.
Tradisi ngaji kilatan ini tidak hanya menjadi sarana mempercepat khataman kitab, tetapi juga mempererat ukhuwah dan menanamkan nilai moderasi beragama. Kebersamaan antara guru dan santri tampak dalam suasana hangat yang penuh adab dan saling menghormati.
Kegiatan ditutup dengan saling bersalaman sebagai simbol mahabbah fillah. Para santri pulang membawa bekal ilmu dan semangat untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui ngaji kilatan Kitab Nashoihul Ibad ini, masyarakat diharapkan semakin mantap menata akal, mengendalikan nafsu, serta menebarkan kemaslahatan di tengah kehidupan sosial. Ramadan menjadi momentum untuk memperkuat tradisi keilmuan, memperluas khidmah, dan menjaga harmoni umat.
Mari kita hidupkan majelis ilmu di lingkungan masing-masing, mendukung para kiai dan asatidz dalam dakwah yang sejuk, serta menebarkan nilai Ahlussunnah wal Jama’ah demi kemaslahatan bersama. Semoga setiap langkah kecil dalam menuntut ilmu menjadi jalan keberkahan bagi diri, keluarga, dan masyarakat.
Editor Andi Budi Setiawan