Ramadhan di Dusun Jajangsurat, Desa Karangbendo, berlangsung khidmat melalui kegiatan Ngaji Kilatan Kitab Nashoihul ‘Ibad yang digelar setiap malam usai salat tarawih. Kegiatan ini menjadi ruang menimba ilmu sekaligus mempererat ukhuwah warga selama bulan suci.
Pengajian dipusatkan di kediaman Ustadz M. Ridho Hawarie yang bertindak sebagai pemateri utama. Dengan metode bandongan dan penjelasan kontekstual, kajian kitab Nashoihul ‘Ibad disampaikan secara sederhana agar mudah dipahami semua kalangan.
Jamaah yang hadir berasal dari berbagai lapisan usia, mulai pelajar hingga masyarakat umum. Kehadiran mereka menunjukkan tingginya semangat mencari ilmu dan menghidupkan malam Ramadhan dengan kegiatan yang bermanfaat.
“Kajian ini tidak hanya menambah wawasan agama, tetapi juga menjadi sarana memperbaiki akhlak dan memperkuat kebersamaan warga,” ujar Ustadz Ridho dalam salah satu sesi pengajian. Ia menegaskan bahwa nilai-nilai adab dalam kitab sangat relevan untuk menjawab tantangan sosial saat ini.
Selain digelar secara langsung, Ngaji Kilatan Kitab Nashoihul ‘Ibad juga disiarkan melalui Facebook dan TikTok. Siaran daring ini memudahkan masyarakat yang berhalangan hadir tetap dapat mengikuti kajian dari rumah.
Materi yang dikaji meliputi adab kepada Allah, sesama manusia, serta pentingnya menjaga lisan dan hati. Penyampaian yang komunikatif membuat jamaah merasa dekat dengan pesan-pesan kitab, sehingga mudah diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Warga merasakan dampak positif dari kegiatan ini, terutama dalam meningkatkan kesadaran beribadah dan memperkuat silaturahmi. Generasi muda pun mendapatkan pembinaan karakter yang selaras dengan nilai Ahlussunah wal Jama’ah.
Kegiatan ini juga menjadi wujud khidmah masyarakat dalam mengisi Ramadhan dengan amal saleh dan ilmu yang bermanfaat. Kebersamaan yang terbangun menunjukkan bahwa pengajian kitab kuning tetap relevan sebagai sarana dakwah yang moderat dan menyejukkan.
Dengan adanya Ngaji Kilatan Kitab Nashoihul ‘Ibad, masyarakat Kabupaten Banyuwangi diharapkan semakin mencintai majelis ilmu dan menjadikannya sebagai tradisi yang berkelanjutan. Semoga semangat ini menginspirasi wilayah lain untuk menghidupkan Ramadhan dengan kegiatan serupa.
Mari kita dukung dan hadir di majelis-majelis ilmu, menyebarkan kebaikan, serta menjaga tradisi ngaji sebagai jalan merawat iman dan persatuan umat.
Editor Andi Budi Setiawan