NGAJI KILATAN MWCNU ROGOJAMPI BAHAS HAKIKAT TOBAT DAN BAHAYA KESOMBONGAN
BANYUWANGI – Kegiatan Ngaji Kilatan MWCNU Rogojampi kembali digelar pada malam ketiga Ramadhan di kediaman katib syuriah MWC NU Rogojampi M.R. Hawarie. Pengajian kitab klasik Nashoihul Ibad ini diikuti para santri dan jamaah dengan penuh kekhidmatan.
Tradisi tahunan yang rutin dilaksanakan oleh MWCNU Rogojampi tersebut menjadi sarana memperdalam ilmu akhlak sekaligus menghidupkan malam Ramadhan dengan majelis ilmu. Kegiatan berlangsung sederhana namun sarat makna dan nilai keaswajaan.
Dalam pengajiannya, M.R. Hawarie menjelaskan perbedaan mendasar antara maksiat yang lahir dari syahwat dan maksiat yang bersumber dari kesombongan. Menurutnya, kesalahan karena kelemahan manusiawi masih membuka pintu tobat, sedangkan kesombongan menjadi penghalang datangnya ampunan.
“Setiap maksiat yang timbul dari hawa nafsu masih ada harapan untuk diampuni Allah. Namun maksiat yang lahir dari kesombongan, maka tertutup pintu harapannya,” tutur beliau di hadapan jamaah.
Untuk memperjelas penjelasan tersebut, beliau menyinggung kisah Nabi Adam yang tergelincir karena godaan nafsu, lalu bertobat dan diampuni. Sebaliknya, Iblis dilaknat karena kesombongan yang merasa lebih mulia.
Beliau juga menukil maqolah Sufyan Ats-Tsauri tentang pentingnya menjauhi sifat takabur. Kutipan tersebut menegaskan bahwa kesombongan menjadi penghalang utama seseorang untuk kembali kepada Allah.
Selain membahas tobat, Katib Syuriyah MWCNU Rogojampi itu berpesan agar santri senantiasa dekat dengan ulama yang mengamalkan ilmunya. Menurutnya, kebersamaan dengan orang saleh dapat menghidupkan hati dan menumbuhkan keikhlasan dalam beribadah.
“Hati manusia ibarat tanah gersang. Ia akan hidup dengan cahaya ilmu dari kalam dan teladan orang saleh, sebagaimana tanah kering disuburkan oleh hujan,” ungkapnya.
Kegiatan Ngaji Kilatan MWCNU Rogojampi ini juga menjadi ruang silaturahmi antarjamaah. Di akhir pengajian, para santri saling bersalaman sebagai wujud ukhuwah dan harapan memperoleh keberkahan ilmu.
Melalui pengajian kitab kuning ini, MWCNU Rogojampi terus meneguhkan tradisi keilmuan Ahlussunah wal Jama’ah yang moderat dan menyejukkan. Majelis ilmu menjadi sarana membentuk akhlak, memperkuat kebersamaan, serta menanamkan nilai tawaduk dalam kehidupan sehari-hari.
Mari kita hidupkan Ramadhan dengan menghadiri majelis ilmu, memperbanyak tobat, dan menjauhi kesombongan. Semoga cahaya ilmu yang dipelajari membawa keberkahan bagi diri, keluarga, dan masyarakat.
Editor Andi Budi Setiawan