Di sela tadarus Al-Qur’an dan sujud panjang di sepertiga malam, ada satu laku batin yang sering terlupa: menata hati. Ibadah ini sunyi, tetapi bobotnya sangat berat. Ia menjadi fondasi agar semua amal tidak gugur karena penyakit hati.
Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, menata hati adalah bagian penting dari perjalanan spiritual. Semakin seseorang merasa taat, semakin besar pula godaan untuk merasa lebih baik dari orang lain. Di titik inilah penyakit ujub dan riya bisa tumbuh tanpa disadari.
Konsep Ngaji Kilatan: Seni Menjadi Paling Jelek di Mata Sendiri mengajak kita merendahkan ego, bukan merendahkan martabat. Ini bukan ajaran pesimisme, melainkan latihan tawadhu agar hati tetap jernih. Sebab, yang paling berbahaya bukan dosa yang disesali, melainkan kebaikan yang dibanggakan.
Seorang ulama besar, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, memberikan nasihat yang sangat mendalam tentang cara menundukkan ego. Beliau berkata:
“Jadilah engkau orang yang paling bagus menurut Allah, orang yang paling jelek di matamu sendiri, dan jadilah orang sewajarnya di mata orang lain.”
Nasihat ini bukan sekadar petuah moral, tetapi metode pendidikan jiwa. Ia mengajarkan keseimbangan antara hubungan vertikal kepada Allah dan hubungan horizontal kepada sesama manusia.
Bagaimana cara melatih diri agar merasa paling jelek di mata sendiri tanpa kehilangan kepercayaan diri? Caranya adalah dengan mengubah cara pandang saat melihat orang lain. Inilah yang bisa disebut sebagai latihan husnuzan total.
Ketika melihat orang yang lebih saleh, katakan dalam hati bahwa bisa jadi derajatnya di sisi Allah jauh lebih tinggi. Saat melihat anak kecil, ingatlah bahwa ia belum banyak berdosa, sedangkan kita telah melalui banyak kelalaian.
Saat melihat orang tua, renungkan bahwa ia telah lebih lama beribadah sebelum kita hadir di dunia. Ketika berjumpa orang alim, akui bahwa ia memiliki ilmu yang belum kita pahami dan telah mengamalkannya dengan istiqamah.
Bahkan ketika melihat orang yang tampak kurang memahami agama, jangan tergesa menghina. Bisa jadi ia belum tahu, sedangkan kita justru sering lalai dalam keadaan tahu.
Demikian pula ketika melihat orang non-Muslim, tetaplah rendah hati. Kita tidak pernah tahu siapa yang akan mendapatkan hidayah dan menutup hidupnya dengan husnul khatimah, sementara diri kita sendiri belum tentu selamat dari suul khatimah.
Inilah inti dari Seni Menjadi Paling Jelek di Mata Sendiri. Kita sibuk mengoreksi diri, bukan mencari celah orang lain. Kita berlomba dalam kebaikan, bukan dalam merasa paling benar.
Lalu mengapa harus menjadi “sewajarnya” di mata manusia? Karena Islam mengajarkan keseimbangan. Terlalu ingin terlihat hebat akan menyeret pada riya, sementara terlalu ingin terlihat hina bisa menjadi kesombongan yang tersembunyi.
Menjadi wajar berarti tidak gila pujian, namun tetap menjaga kehormatan diri (muru’ah). Sikap ini mencerminkan moderasi dan kematangan spiritual. Kita hadir membawa kemaslahatan, bukan mencari pengakuan.
Ramadan adalah madrasah hati yang melatih keikhlasan dan kebersamaan. Semangat ini sejalan dengan nilai khidmah dalam tradisi Nahdlatul Ulama, yaitu berbuat baik tanpa banyak menuntut sorotan.
Mari kita jadikan Ngaji Kilatan: Seni Menjadi Paling Jelek di Mata Sendiri sebagai latihan harian. Mulailah dengan memperbaiki niat, memperbanyak introspeksi, dan menumbuhkan husnuzan kepada sesama.
Jika tulisan ini terasa bermanfaat, mari sebarkan semangat tawadhu dan kesejukan ini kepada keluarga, sahabat, dan jamaah di sekitar kita. Semoga kita semua diberi kekuatan untuk terus menata hati, menjaga keikhlasan, dan berkhidmah demi kemaslahatan umat.
Editor Andi Budi Setiawan