PENGAJIAN SUBUH RUTIN RANTING NU SUMBERSUCI BEKALI JAMAAH SAMBUT RAMADAN DENGAN PUASA BERKUALITAS

ROGOJAMPI – Pengajian rutin ba’da Subuh Ranting NU Sumbersuci kembali digelar di Masjid Al-Hikmah, Dusun Cengkokan, Desa Mangir, pada Ahad (15/02/2026) pukul 04.30–06.00 WIB. Kegiatan ini menjadi ikhtiar jamaah dalam mempersiapkan diri menyambut bulan suci Ramadan dengan ilmu dan kebersamaan.

Sejak fajar menyingsing, jamaah telah memadati serambi masjid. Suasana hangat terasa saat warga saling menyapa sambil menikmati hidangan sederhana berupa ketan hangat dan pisang goreng yang disiapkan secara gotong royong.

Pengajian rutin NU Sumbersuci kali ini menghadirkan Katib Syuriyah MWCNU Rogojampi, M.R. Hawarie, sebagai pemateri. Dengan penyampaian santai namun berbobot, beliau mengajak jamaah memahami hakikat puasa secara lahir dan batin.

Dalam tausiahnya, M.R. Hawarie menegaskan bahwa puasa tidak hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan yang mengurangi nilai ibadah. Ia mengingatkan bahwa banyak orang berpuasa, namun tidak memperoleh apa-apa selain lapar dan dahaga.

“Puasa bukan sekadar menutup jalan masuknya makanan ke dalam tubuh, tetapi juga menutup pintu dosa dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya di hadapan jamaah.

Beliau juga memberikan nasihat praktis terkait adab berbuka. Menurutnya, makan secara berlebihan justru dapat menghalangi semangat beribadah pada malam hari, termasuk pelaksanaan salat tarawih.

Selain itu, jamaah diajak untuk merawat hati dalam keadaan seimbang antara harap (roja’) dan takut (khauf). Sikap batin ini dinilai penting agar seorang muslim tetap rendah hati dan terus memperbaiki diri selama menjalankan ibadah Ramadan.

M.R. Hawarie juga mendorong jamaah untuk meningkatkan kualitas puasa menuju tingkatan yang lebih khusus. Ia menjelaskan bahwa secara fiqih puasa tetap sah meski tanpa menjaga perilaku, namun secara nilai spiritual bisa menjadi hampa dari pahala.

Pengajian Subuh rutin NU Sumbersuci tidak hanya menjadi ruang belajar keagamaan, tetapi juga sarana mempererat ukhuwah warga. Kebersamaan terlihat dari tradisi ramah tamah setelah pengajian yang berlangsung sederhana namun penuh kehangatan.

Kegiatan ini sekaligus mencerminkan nilai Ahlussunah wal Jama’ah yang menekankan keseimbangan antara ibadah, ilmu, dan kebersamaan sosial. Melalui majelis ilmu seperti ini, tradisi ke-NU-an terus dirawat di tingkat ranting.

Saat pengajian berakhir, jamaah pulang dengan membawa bekal ilmu dan semangat baru menyambut Ramadan. Kehangatan kebersamaan menjadi penguat langkah untuk meningkatkan kualitas ibadah di bulan suci.

Mari terus hidupkan pengajian rutin di lingkungan masing-masing sebagai sarana memperdalam ilmu, memperkuat ukhuwah, dan menyiapkan diri menyambut Ramadan dengan hati yang bersih. Dukungan dan partisipasi aktif warga menjadi kunci keberkahan majelis ilmu di tengah masyarakat.

Editor Andi Budi Setiawan

Penulis
Imam Mashudi (Ketua Tanfidziyah Ranting NU Sumbersuci)
Tanggal
15 Feb 2026
Dibaca
24 kali
Tags: #program #rantingnusumbersuci #mwcnurogojampi #pcnubanyuwangi #pwnujatim #pbnu
Bagikan:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!