PENGUATAN NILAI SPIRITUAL MELALUI KAJIAN KITAB NASHOIHUL‘IBAD

“Hai, orang yang tenggelam dalam urusan dunia! Betapa panjang angan-anganmu telah melalaikanmu. Mengapa engkau senantiasa lupa? Hingga ajal datang tanpa aba-aba. Maut menghampiri secara tiba-tiba, dan kubur menjadi peti bagi seluruh amal.”

Seruan ini menjadi pengingat yang lembut namun dalam bagi siapa pun yang sedang larut dalam kesibukan dunia. Ia mengajak hati untuk kembali menata niat, menyadari keterbatasan hidup, serta mempersiapkan bekal menuju kehidupan abadi.

Nilai spiritual merupakan dimensi terdalam dalam kehidupan manusia. Ia tidak hanya menyentuh aspek materi dan fisik, tetapi juga melampauinya menuju kesadaran akan makna hidup yang hakiki.

Namun, dalam arus kenikmatan dan gemerlap zaman, nilai ini perlahan tergeser oleh orientasi yang serba duniawi. Padahal, hakikat spiritualitas terletak pada pemahaman nilai-nilai transenden: hubungan manusia dengan sesamanya, dengan alam semesta, dan terutama dengan Yang Ilahi.

Dari sinilah lahir kesadaran eksistensial bahwa setiap makhluk hidup senantiasa mencari makna dan tujuan hidup. Pertanyaan tentang “mengapa kita ada” bukan sekadar refleksi filosofis, melainkan dorongan batin untuk menghadirkan kontribusi positif agar kehidupan dijalani secara lebih sadar dan bermakna.

Dalam khazanah keislaman, dimensi ini tercermin kuat dalam kitab Nashoihul‘Ibad karya Imam Nawawi al-Bantani. Kitab tersebut memuat nasihat-nasihat bagi hamba Allah SWT sebagai tuntunan dalam membangun dan memelihara kehidupan rohani.

Melalui petuah-petuahnya, pembaca diajak untuk menata hati, memperkuat kesadaran spiritual, serta menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat. Dengan demikian, nilai spiritual tidak sekadar menjadi konsep, tetapi menjelma sebagai fondasi dalam membentuk pribadi yang utuh dan berorientasi pada kebermaknaan hidup.

Hubbud dunia dimaknai sebagai sikap ketika manusia mengutamakan urusan dunia melebihi bentuk ketakwaannya kepada Allah SWT. Istilah ini berasal dari bahasa Arab, hubb yang berarti cinta dan ad-dunya yang berarti dunia.

Secara sederhana, hubbud dunia adalah kecenderungan hati yang terlalu melekat pada kehidupan duniawi hingga melalaikan orientasi akhirat. Memahami konsep ini menjadi sangat penting bagi umat Islam, terlebih di tengah zaman modern yang bergerak begitu cepat.

Perkembangan teknologi, persaingan ekonomi, pencapaian karier, serta gaya hidup yang terus berubah sering kali membentuk pola pikir materialistik. Tanpa disadari, manusia terdorong menilai keberhasilan semata dari kepemilikan, jabatan, dan pengakuan sosial.

Pada titik inilah cinta kepada dunia bergeser dari sekadar kebutuhan menjadi ambisi yang menguasai hati. Ia hadir secara halus melalui keinginan untuk selalu lebih unggul, lebih kaya, atau lebih dipuji.

Ketika orientasi hidup hanya terfokus pada pencapaian duniawi, seseorang bisa terjerumus pada sifat tamak dan rakus. Dunia yang semestinya menjadi sarana justru berubah menjadi tujuan.

Akibatnya, nilai-nilai spiritual terpinggirkan, ibadah menjadi sekadar rutinitas, dan kepekaan sosial semakin menipis. Hati yang terlalu terpaut pada dunia akan selalu merasa kurang dan terus mengejar tanpa henti.

Karena itu, keseimbangan menjadi kunci. Islam tidak melarang umatnya untuk berusaha, bekerja keras, dan meraih kesuksesan dunia, tetapi semua itu harus tetap berada dalam takaran ketakwaan.

Dunia adalah ladang amal, bukan tujuan akhir. Ketika cinta kepada dunia ditempatkan secara proporsional sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, maka ia tidak lagi menjadi jebakan, melainkan jalan menuju kebaikan yang lebih luas.

Dalam salah satu riwayat yang dinukil Ad-Dailami, Nabi SAW bersabda bahwa meninggalkan dunia terasa lebih pahit daripada tumbuhan brotowali dan lebih pedih daripada goresan pedang di medan sabilillah. Ungkapan ini menegaskan betapa beratnya perjuangan batin untuk melepaskan keterikatan pada gemerlap dunia.

Bahkan disebutkan, siapa yang mampu meninggalkannya, Allah akan menganugerahkan kepadanya ganjaran seperti yang diberikan kepada para syuhada. Hal ini menunjukkan kemuliaan perjuangan melawan hawa nafsu dan kecintaan berlebih kepada dunia.

Makna “meninggalkan dunia” tidak berarti membenci kehidupan atau menolak kenikmatannya. Ia lebih menunjuk pada sikap zuhud, yaitu mengendalikan diri dari berlebih-lebihan, mempersedikit makan dan kenyang, serta tidak menggantungkan kebahagiaan pada pujian manusia.

Kecintaan terhadap sanjungan sering kali menjadi pintu masuk kecintaan pada dunia. Ketika hati merasa nikmat karena dipuji, di situlah dunia perlahan mengikat dan menguasai.

Hadis tersebut mengajarkan bahwa perjuangan terbesar bukanlah menghadapi musuh di luar diri, melainkan menaklukkan keinginan dan ego di dalam diri. Meninggalkan pujian dan mengurangi ketergantungan pada kenikmatan dunia merupakan latihan spiritual yang berat, tetapi bernilai tinggi di sisi Allah.

Siapa yang menginginkan keridaan dan kedekatan dengan-Nya dituntut untuk membebaskan hati dari belenggu dunia dan penilaian manusia. Dunia dijadikan sarana, bukan cita-cita utama.

Esensi ajaran ini adalah membangun keteguhan hati. Kemuliaan seorang hamba terletak ketika ia mampu menempatkan dunia di tangannya, bukan di hatinya.

Melalui pembelajaran kitab Nashoihul‘Ibad, individu dapat menanamkan nilai-nilai spiritual tersebut dalam dirinya. Nilai itu kemudian diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari melalui ibadah yang khusyuk, akhlak yang lembut, serta kepedulian sosial.

Mari kita jadikan kajian kitab sebagai ruang khidmah untuk membersihkan hati dan menguatkan langkah menuju Allah SWT. Dengan merawat tradisi keilmuan dan menghidupkan nilai zuhud dalam kehidupan modern, kita berharap mampu menghadirkan kemaslahatan bagi diri sendiri, masyarakat, dan umat secara luas.

Editor Andi Budi Setiawan

Penulis
oh. Danil Fathoni (Pemuda NU Jajangsurat)
Tanggal
26 Feb 2026
Dibaca
33 kali
Tags: #artikel #nashoihulibad #rantingnujajangsurat #pemudanu #mwcnurogojampi #pcnubanyuwangi #pwnujawatimur #pbnu #nahdlatululama
Bagikan:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!