RANTING NU BUBUK GELAR PENGAJIAN RUTIN DAN ISTIGHOTSAH BERSAMA

Rogojampi – Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Bubuk, Desa Bubuk, kembali menggelar kegiatan rutin mingguan setiap malam Selasa yang berpusat di mushola-mushola lingkungan setempat, Senin (12/01/2026). Kegiatan kali ini dilaksanakan di Mushola Akhlaqul Karimah dan dihadiri puluhan jamaah, jajaran Syuriyah, Tanfidziyah, serta badan otonom NU setempat. Acara diawali dengan pembukaan yang berlangsung khidmat. Seluruh jamaah diajak menata niat untuk mengikuti rangkaian kegiatan semata-mata mengharap ridha Allah SWT. Rangkaian Dzikir dan Kirim Doa Memasuki agenda utama, kegiatan dilanjutkan dengan sesi khusushiyyah. Pada sesi ini, jamaah secara khusus membaca Surah Al-Fatihah yang ditujukan kepada para muassis (pendiri) Nahdlatul Ulama, para masyayikh, masyarakat, serta tokoh-tokoh lokal yang telah berjasa dalam mengembangkan syiar Islam di lingkungan setempat. Suasana semakin khusyuk saat lantunan tahlil bergema. Pembacaan doa untuk para arwah tersebut merupakan tradisi yang terus dijaga oleh Ranting NU Bubuk sebagai bentuk bakti kepada para leluhur dan orang tua yang telah mendahului. Semangat spiritual jamaah semakin menguat ketika acara berlanjut pada prosesi istighotsah. Jamaah tampak menundukkan kepala, melantunkan dzikir dan doa permohonan pertolongan kepada Allah SWT agar kampung halaman dan bangsa senantiasa diberi keamanan, ketenteraman, serta dijauhkan dari segala bala dan bencana. Mauidzah Hasanah: Menambah Wawasan Keaswajaan Puncak acara diisi dengan mauidzah hasanah yang disampaikan oleh Ustadz Suradi, selaku Wakil Syuriyah Ranting NU Bubuk. Dalam ceramahnya, ia menjelaskan peristiwa Isra Mi’raj sebagai momentum diterimanya perintah shalat lima waktu. Ia mengisahkan bahwa pada awalnya shalat diperintahkan sebanyak 50 kali dalam sehari. Namun, melalui dialog dan saran Nabi Musa AS, Rasulullah SAW memohon keringanan kepada Allah SWT hingga ditetapkan menjadi lima waktu sehari dengan pahala yang setara dengan 50 kali shalat. “Kegiatan seperti ini bukan sekadar rutinitas, melainkan menjadi benteng bagi warga Nahdliyin agar tetap konsisten berada di jalur Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah,” ujarnya dalam salah satu petikan ceramah. Rangkaian kegiatan yang berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan tersebut ditutup dengan pembacaan doa bersama. Melalui doa penutup ini, diharapkan seluruh hajat jamaah dikabulkan dan membawa keberkahan bagi lingkungan sekitar. Usai acara, para jamaah tampak saling bersalaman (mushofahah) sebagai simbol eratnya persaudaraan dan kebersamaan antarwarga Nahdlatul Ulama.
Penulis
ANDI BUDI SETIAWAN
Tanggal
12 Jan 2026
Dibaca
26 kali
Tags: #berita #ranting nu bubuk #mwc nu #pcnu #pwnu #rogojampi #banyuwangi
Bagikan:

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!