BANYUWANGI – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 H, pengajian rutin Musholla Al-Falah, Dusun Jajangsurat, resmi ditutup sementara pada Selasa malam (10/02/2026). Penutupan ini menjadi penanda jeda majelis mingguan yang selama ini istiqamah digelar oleh warga setempat.
Pengajian rutin Musholla Al-Falah tersebut rencananya akan kembali dilaksanakan setelah Hari Raya Idul Fitri mendatang. Keputusan ini diambil sebagai bentuk penghormatan sekaligus persiapan menyambut Ramadan dengan lebih khusyuk.
Acara penutupan menghadirkan pembicara tunggal, M.R. Hawarie, yang menjabat sebagai Katib Syuriyah MWCNU Rogojampi. Di hadapan jamaah yang memadati musholla, beliau menyampaikan tausiah tentang pentingnya mempersiapkan diri secara spiritual menjelang ibadah puasa.
Dalam ceramahnya, M.R. Hawarie mengingatkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia menekankan agar jamaah memahami aspek fiqih yang membatalkan puasa, seperti memasukkan sesuatu ke dalam lubang tubuh hingga mencapai lambung.
Namun demikian, beliau menegaskan bahwa ada perkara yang lebih berbahaya daripada sekadar batal secara hukum fiqih, yakni hilangnya pahala puasa. Hal inilah yang sering kali luput dari perhatian umat.
“Banyak orang berpuasa, tetapi ia hanya mendapatkan lapar dan lelah dari puasanya,” ujar beliau, mengutip maqolah Imam Al-Ghazali.
Lebih lanjut, ia menyitir sabda Nabi Muhammad SAW mengenai lima perkara yang dapat merusak pahala puasa, yaitu berdusta, menggunjing (ghibah), memfitnah (namimah), sumpah palsu, dan memandang dengan syahwat. Menurutnya, lima hal tersebut sering dianggap sepele, padahal berdampak besar terhadap kualitas ibadah.
“Maksud berpuasa bukan hanya berhenti makan dan minum, melainkan meminimalisir keinginan nafsu hingga kita bisa mengendalikannya,” tegasnya.
Beliau menjelaskan bahwa inti puasa adalah proses tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Ramadan menjadi momentum untuk melatih kesabaran, menjaga lisan, serta memperbaiki hubungan dengan sesama.
Pengajian rutin Musholla Al-Falah selama ini menjadi ruang silaturahmi dan penguatan nilai-nilai Ahlussunah wal Jama’ah di tengah masyarakat Dusun Jajangsurat. Melalui majelis sederhana tersebut, warga belajar bersama tentang fiqih, akhlak, dan pentingnya menjaga ukhuwah.
Penutupan sementara ini bukanlah akhir, melainkan jeda untuk memasuki bulan suci dengan kesiapan lahir dan batin. Suasana khidmat terasa saat acara ditutup dengan doa bersama agar seluruh jamaah diberi kesehatan serta umur panjang untuk menunaikan ibadah Ramadan secara sempurna.
Para jamaah kemudian saling bersalaman, saling memaafkan, dan mempererat kebersamaan. Momen tersebut menjadi simbol kesiapan hati menyambut Ramadan dengan niat yang bersih dan tekad memperbaiki diri.
Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi madrasah ruhani yang mendidik umat menuju ketakwaan. Melalui pengajian rutin seperti ini, masyarakat diharapkan semakin memahami hakikat ibadah sebagai jalan khidmah dan kemaslahatan.
Mari jadikan Ramadan 1447 H sebagai momentum memperbaiki diri, menjaga lisan dan tulisan, serta memperkuat ukhuwah di lingkungan masing-masing. Sebarkan semangat kebaikan, hidupkan majelis ilmu, dan terus dukung kegiatan keagamaan sebagai ikhtiar merawat tradisi Aswaja di tengah masyarakat.
Penulis Ridho Hawarie – Katib Syuriah MWC NU Rogojampi
Editor Andi Budi Setiawan